Nasional

Selat Hormuz Kembali Tutup, Jenis KapaL Tanker Berikut Ini Terpaksa Putar Balik

×

Selat Hormuz Kembali Tutup, Jenis KapaL Tanker Berikut Ini Terpaksa Putar Balik

Sebarkan artikel ini
Selat Hormuz
Ilustrasi selat Hormuz. Freepik

SEMARANG, beritajateng.tv – Isu gencatan senjata yang akan menjadi alasan di bukanya selat Hormuz ternyata belum sepenuhnya terbuka.

Bahkan kabar terbaru pada hari Kamis 9 April 2026 dari media Iran yakni kawasan tersebut masih tutup akses secara total.

Kabarnya, penutupan tersebut akibat dari serangan Israel ke Lebanon yang menyebabkan ratusan orang meninggal dunia.

BACA JUGA: AS Sepakat Gencatan Senjata Iran, Harga Minyak Dunia Langsung Anjlok

Selat Hormuz di Tutup

Salah satu kapal tanker yang terpaksa harus putar balik yakni bernama AUROURA, jalur pelayarannya mendadak berubah arah saat melintasi kawasan tersebut.

Perubahan arah tersebut berlangsung di salah satu titik yang cukup sensitif yakni antara Pulau Larak dan Semenanjung Musandam.

Sebelum masuk ke Teluk Persia, kapal pengangkut minyak tersebut melakukan putaran sekitar 180 derajat di dekat pesisir Musandam dan Oman.

Tentu saja kawasan tersebut terkenal sebagai jalur cukup penting bagi perdagangan energi dunia. Tak jarang jalur ini sering padat lalu lintas kapal tinggi.

Berbagai sumber mengatakan bahwasanya kapal tersebut bergerak ke arah barat laut di dalam kawasan Teluk Persia sesuai dengan pengawasan otoritas maritim Iran.

Tak hanya kapal tersebut, media Iran juga kembali menginformasikan bahwasanya sekitar 99 persen tidak ada kapal yang melintas di kawasan selat hormuz.

BACA JUGA: Nilai Ekspor Jateng Turun 300 Juta Dolar Imbas Perang AS-Iran, Disperindag: Sektor Tekstil Terpukul

Hanya beberapa kapal tertentu yang melintas seperti kapal milik Iran serta China yang masih terus beroperasi.

Selain itu juga ada kapal milik Yunani NJ Earth dan kapal Liberia, Daytona Beach yang juga berhasil melewatinya.

Selat Hormuz memiliki peran yang sangat vital karena menjadi jalur distribusi energi paling strategis di dunia. Sekitar 20% dari total konsumsi minyak dan gas alam cair (LNG) global atau setara dengan 20 juta barel per hari.

Sebagai chokepoint maritim utama, setiap gangguan di kawasan ini berpotensi langsung menyebabkan kenaikan harga energi secara global.