SEMARANG, beritajateng.tv – Fenomena self diagnosis atau mendiagnosis kondisi kesehatan mental secara mandiri melalui informasi yang beredar di media sosial semakin banyak ditemukan, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Namun, psikolog mengingatkan bahwa informasi dari media sosial tidak bisa jadi dasar untuk memastikan seseorang mengalami gangguan psikologis tertentu.
Psikolog Dra. Probowatie Tjondronegoro menjelaskan, berbagai edukasi kesehatan mental yang beredar di media sosial sebenarnya dapat menjadi referensi awal untuk mengenali gejala psikologis. Namun, penerapannya tidak bisa disamaratakan pada setiap individu.
“Kalau teorinya akurat, tapi penerapannya yang belum tentu akurat. Misalnya masalahnya sama, tetapi waktunya berbeda, kondisi medisnya berbeda, terapinya berbeda,” ujarnya saat beritajateng.tv konfirmasi pada Sabtu, 6 Juni 2026.
BACA JUGA: Teh Manis Minuman Wajib Saat Tamu Datang, Ini Manfaatnya Bagi Kesehatan
Menurutnya, banyak orang yang merasa mengalami gangguan tertentu setelah membaca daftar gejala di internet atau media sosial. Padahal, kesamaan beberapa gejala tidak otomatis menunjukkan seseorang mengalami gangguan mental tertentu.
“Misalnya ada ciri-ciri bipolar ABCDEF, lalu merasa, ‘iya aku seperti itu’. Belum tentu. Teorinya benar, tetapi jangan kita makan mentah,” katanya.
Setiap Orang Punya Kondisi Berbeda
Probowatie menegaskan bahwa psikologi sangat terpengaruhi oleh perbedaan individu (individual differences). Karena itu, pendekatan untuk satu orang belum tentu cocok penerapannya untuk orang lain meskipun menghadapi masalah yang serupa.
“Masalahnya bisa sama, tetapi cara mendekatinya berbeda. Tuhan menciptakan manusia tidak sama. Saudara kandung saja kepribadiannya bisa berbeda,” jelasnya.
Ia mencontohkan kondisi keluarga yang sama-sama mengalami konflik orang tua, tetapi respons psikologis setiap anak bisa berbeda tergantung karakter dan pengalaman masing-masing.
Karena itulah, informasi kesehatan mental ada di media sosial perlu ada verifikasi lebih lanjut melalui komunikasi dan konsultasi dengan pihak yang kompeten.
Bahaya Menarik Kesimpulan Sendiri
Lebih lanjut, Probowatie menilai kebiasaan menyimpulkan kondisi diri sendiri tanpa pemeriksaan profesional berpotensi menimbulkan kesalahpahaman terhadap masalah yang sebenarnya terjadi.
Sebagai contoh, seseorang yang kehilangan nafsu makan bisa langsung menganggap bahwa ia mengalami gangguan tertentu, padahal penyebabnya bisa sangat beragam.
“Saya enggak suka makan, lalu langsung menganggap ini karena asam lambung atau masalah tertentu. Padahal bisa saja karena pikirannya sedang banyak atau memang ada kondisi kesehatan lain,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi psikologis seseorang perlu secara menyeluruh, termasuk melalui observasi, komunikasi, dan berdiskusi yang mendalam.
“Harus ada komunikasi, harus dicocokkan benar-benar. Ekspresi wajah, perilaku, kebiasaan sehari-hari itu juga perlu diperhatikan,” katanya.
Media Sosial Boleh Jadi Referensi Awal, Tetap Perlu Konfirmasi
Meski demikian, Probowatie tidak melarang masyarakat memanfaatkan informasi kesehatan mental yang beredar di media sosial. Ia menilai edukasi tersebut tetap memiliki manfaat sebagai langkah awal untuk mengenali kondisi diri.
Namun, ia menekankan pentingnya melakukan konfirmasi kepada tenaga profesional sebelum mengambil kesimpulan.
“Yang dibaca di media sosial itu bisa benar, tetapi harus dikonfirmasi. Jangan langsung mendiagnosis diri sendiri,” tegasnya.
BACA JUGA: RSWN Semarang Launching Program Deteksi Kesehatan Mental Bagi Pelajar
Ia menambahkan bahwa proses memahami kondisi psikologis tidak cukup hanya berdasarkan informasi singkat dari internet. Dukungan lingkungan, komunikasi yang terbuka, serta konsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan menjadi langkah yang lebih tepat untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.
“Psikolog yang paling positif memang diri sendiri, tetapi tetap harus ada pendampingan dan komunikasi. Tidak bisa semuanya kita simpulkan sendiri,” pungkasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





