Gaya Hidup

Self Diagnosis Marak di Kalangan Anak Muda, Psikolog: Teorinya Benar, Tapi Jangan Ditelan Mentah

×

Self Diagnosis Marak di Kalangan Anak Muda, Psikolog: Teorinya Benar, Tapi Jangan Ditelan Mentah

Sebarkan artikel ini
Pati Ponpes
Psikolog Dra. Probowatie Tjondronegoro, M.Si. saat dijumpai di kediamannya, Jumat, 20 Maret 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Fenomena self diagnosis atau mendiagnosis kondisi kesehatan mental secara mandiri melalui informasi yang beredar di media sosial semakin banyak ditemukan, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Namun, psikolog mengingatkan bahwa informasi dari media sosial tidak bisa jadi dasar untuk memastikan seseorang mengalami gangguan psikologis tertentu.

Psikolog Dra. Probowatie Tjondronegoro menjelaskan, berbagai edukasi kesehatan mental yang beredar di media sosial sebenarnya dapat menjadi referensi awal untuk mengenali gejala psikologis. Namun, penerapannya tidak bisa disamaratakan pada setiap individu.

“Kalau teorinya akurat, tapi penerapannya yang belum tentu akurat. Misalnya masalahnya sama, tetapi waktunya berbeda, kondisi medisnya berbeda, terapinya berbeda,” ujarnya saat beritajateng.tv konfirmasi pada Sabtu, 6 Juni 2026.

BACA JUGA: Teh Manis Minuman Wajib Saat Tamu Datang, Ini Manfaatnya Bagi Kesehatan

Menurutnya, banyak orang yang merasa mengalami gangguan tertentu setelah membaca daftar gejala di internet atau media sosial. Padahal, kesamaan beberapa gejala tidak otomatis menunjukkan seseorang mengalami gangguan mental tertentu.

“Misalnya ada ciri-ciri bipolar ABCDEF, lalu merasa, ‘iya aku seperti itu’. Belum tentu. Teorinya benar, tetapi jangan kita makan mentah,” katanya.

Setiap Orang Punya Kondisi Berbeda

Probowatie menegaskan bahwa psikologi sangat terpengaruhi oleh perbedaan individu (individual differences). Karena itu, pendekatan untuk satu orang belum tentu cocok penerapannya untuk orang lain meskipun menghadapi masalah yang serupa.

“Masalahnya bisa sama, tetapi cara mendekatinya berbeda. Tuhan menciptakan manusia tidak sama. Saudara kandung saja kepribadiannya bisa berbeda,” jelasnya.

Ia mencontohkan kondisi keluarga yang sama-sama mengalami konflik orang tua, tetapi respons psikologis setiap anak bisa berbeda tergantung karakter dan pengalaman masing-masing.

Karena itulah, informasi kesehatan mental ada di media sosial perlu ada verifikasi lebih lanjut melalui komunikasi dan konsultasi dengan pihak yang kompeten.

Bahaya Menarik Kesimpulan Sendiri

Lebih lanjut, Probowatie menilai kebiasaan menyimpulkan kondisi diri sendiri tanpa pemeriksaan profesional berpotensi menimbulkan kesalahpahaman terhadap masalah yang sebenarnya terjadi.