Beragam Lomba Sesuai Kemampuan Peserta
Setelah upacara, suasana di Jalan Puspowarno berubah menjadi lebih meriah. Para peserta mengikuti berbagai lomba khas Agustusan, seperti memasukkan pensil ke botol, voli bola air, rebut kursi dan estafet sarung.
Yang membedakan, permainan tidak terpaksakan menggunakan satu format untuk seluruh peserta. Bagi peserta dengan kemampuan motorik yang terbatas, misalnya, tersiapkan permainan melempar dan menangkap bola.
“Teman-teman yang motoriknya masih kurang itu kita biar mereka juga merasakan ikut lomba,” kata Theresia.
Ia menyebut peserta dengan keterbatasan motorik ternyata mampu mengikuti permainan tersebut dengan baik. “Mereka melempar bola ternyata mereka bisa,” ujarnya.
Sementara peserta disabilitas fisik maupun peserta lain yang memiliki kemampuan gerak lebih baik dapat mengikuti permainan seperti rebut kursi dan estafet sarung. Peserta yang terlibat berasal dari berbagai kondisi disabilitas dengan rentang usia 18-48 tahun.
BACA JUGA: Dari Grobogan ke Jakarta, Kirab Lari Estafet Api Perjuangan Awali Rakernas V PDIP, Tempuh 500 Km Lebih
Bagi Theresia, perayaan kemerdekaan di Jalan Puspowarno bukan sekadar agenda tahunan. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperlihatkan bahwa penyandang disabilitas dapat terlibat dalam berbagai aktivitas apabila diberikan kesempatan.
Ia berharap masyarakat tidak lagi memandang penyandang disabilitas sebelah mata ataupun memberikan perlakuan yang membuat mereka merasa berbeda.
“Semoga tidak ada diskriminasi lagi dan tidak memandang sebelah mata ataupun memandang dengan tatapan sinis. Anggap kami itu sama dengan kalian semua,” harapnya.
Rangkaian kegiatan berlangsung hingga sekitar pukul 13.00 WIB. Dari upacara hingga perlombaan, para peserta mendapatkan kesempatan untuk mengambil peran dan menunjukkan kemampuan masing-masing. (*)
Editor: Farah Nazila





