SEMARANG, beritajateng.tv – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Jalan Puspowarno, Kota Semarang, Senin, 17 Agustus 2026, menjadi momentum bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan mereka di ruang publik.
Kegiatan yang digelar Komunitas Sahabat Difabel Semarang tidak berhenti pada upacara bendera. Setelah seremoni, para peserta mengikuti sejumlah lomba 17 Agustus dengan konsep yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing.
Hal ini membuat perayaan kemerdekaan berlangsung inklusif. Peserta dengan keterbatasan motorik maupun kondisi disabilitas lainnya tetap mendapatkan kesempatan untuk tampil, bermain dan berkompetisi.
Ketua Komunitas Sahabat Difabel Semarang, Theresia Rina Dwi Pangestuti, mengatakan semangat kemerdekaan harus bisa dirasakan semua warga tanpa membedakan kondisi fisik.
BACA JUGA: Peringati HUT ke-10, KHAS Semarang Hotel Gelar Aksi Sosial Donor Darah dan Talkshow Kesehatan Bersama RS Panti Wilasa
Menurutnya, penyandang disabilitas juga memiliki hak untuk mendapatkan kesempatan berkarya dan menunjukkan kemampuan tanpa diskriminasi.
“Merdeka buat semuanya ya, terutama buat teman-teman disabilitas diberi kesempatan untuk berkarya, memberikan apa yang mereka bisa tanpa ada diskriminasi,” ujar Theresia di sela-sela kegiatan lomba.
Unjuk Diri Jadi Petugas Upacara
Semangat tersebut sudah terlihat sejak upacara bendera mulai pukul 07.00 WIB. Sejumlah penyandang disabilitas dipercaya mengisi berbagai posisi dalam pelaksanaan upacara.
Eva bertugas sebagai pemimpin upacara, Fafi membacakan doa, Christina menjadi protokol, Oci sebagai pengibar bendera, Syifa bertugas sebagai dirigen, sedangkan Billy membacakan undang-undang. Ida selaku Ketua Yayasan bertindak sebagai pembina upacara.
Persiapan terlaksana selama sekitar satu bulan. Salah satu tantangan yang terhadapi adalah latihan baris-berbaris. Theresia mengatakan kondisi motorik sejumlah peserta membuat koordinasi gerakan tangan dan kaki membutuhkan latihan serta penyesuaian lebih lanjut.
“Kesulitannya mereka ini untuk pemahaman tentang berbaris-berbaris. Kadang motorik mereka memang tidak sinkron antara tangan dan kaki, jadi memang kita harus beberapa kali ganti personel,” jelasnya.
Namun, proses tersebut justru menjadi bagian dari pembelajaran dan pengalaman bagi peserta untuk tampil percaya diri dalam kegiatan bersama.





