Jateng

Setahun Agustina-Iswar Pimpin Semarang, Akui Banjir Masih Jadi PR Besar

×

Setahun Agustina-Iswar Pimpin Semarang, Akui Banjir Masih Jadi PR Besar

Sebarkan artikel ini
Setahun Agustina-Iswar Pimpin Semarang, Akui Banjir Masih Jadi PR Besar
Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng - Iswar Aminuddin. (Ellya/beritajateng.tv)

“Kita harus mengurangi debit air di satu jalur. Selama ada aset tanah milik Pemkot di sepanjang jalur air, di situ akan kita buat kolam-kolam kecil yang terkoneksi sampai ke muara,” tegasnya.

Menurut Agustina, kebutuhan anggaran untuk program tersebut masih dalam batas kemampuan fiskal daerah. Ia optimistis peningkatan pendapatan daerah dapat menopang pembiayaan pengendalian banjir.

“Kemampuan fiskal kita cukup. Kita genjot pendapatan dari retribusi, penataan PKL, retribusi kebersihan, serta pajak hotel dan restoran dengan sistem e-tax agar lebih transparan. Potensinya besar dan bisa kita arahkan untuk pengendalian banjir,” terangnya.

Perketat izin perumahan mulai 2026

Selain fokus pada infrastruktur, Agustina juga menyoroti maraknya pembangunan perumahan yang mempersempit jalur air. Ia menilai banyak kawasan permukiman baru tidak sepenuhnya mengikuti tata ruang dan sistem drainase yang semestinya.

Integrasi Perizinan Agar Sesuai Tata Kota

Mulai 2026, Pemkot Semarang akan mengintegrasikan sistem perizinan melalui DPMPTSP, DPU, Perkim dan Bappeda agar setiap izin mendirikan bangunan benar-benar sesuai tata kota.

“Kalau tidak sesuai tata kota, tidak akan kita berikan izin. Banyak banjir di permukiman muncul karena jalur airnya tidak sesuai perencanaan,” ujarnya.

Agustina juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat terkait rencana pembongkaran bangunan di atas saluran air, termasuk lapak PKL yang berdiri permanen di sejumlah titik rawan banjir seperti kawasan Jalan Gajah.

“Ini pilihan yang berat. Tapi kalau saluran airnya tidak ada pelebaran dan pengerukan, banjir akan terus berulang. Kami harus tegas agar ke depan tidak terjadi lagi,” katanya.

Agustina menegaskan, pengendalian banjir bukan pekerjaan instan. Ia menyebut kolaborasi lintas pemerintah dan disiplin tata ruang menjadi kunci agar banjir di Semarang, terutama wilayah timur, bisa di tekan secara bertahap.

“Banjir itu pasti ada, karena itu bagian dari siklus alam. Tugas kita memastikan airnya terkendali dan tidak merugikan masyarakat,” pungkasnya. (*)

 

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp