Jateng

Setoran Dividen BUMD Jateng Ditarget Rp800,55 Miliar pada 2027, Bank Jateng Masih Penyumbang Terbesar

×

Setoran Dividen BUMD Jateng Ditarget Rp800,55 Miliar pada 2027, Bank Jateng Masih Penyumbang Terbesar

Sebarkan artikel ini
Dividen BUMD | Kerugian PRPP
Kepala Biro BUMD dan BLUD Setda Jawa Tengah, Agus Prasutio, sampaikan saat ditemui di kantornya, Kamis, 9 Juli 2026. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

“Tentu yang merajai ya Bank Jateng. Sekitar Rp500 sekian miliar sendiri dari Bank Jateng. Sisanya Rp200 sekian miliar itu BUMD di luar Bank Jateng,” jelas Agus.

Meski demikian, Agus mengakui kontribusi seluruh BUMD terhadap PAD Jawa Tengah masih relatif kecil.

“Kami mendukung PAD masih di bawah 10 persen, sekitar 5 persen. Kalau ԁitotal terhadap PAD memang masih kecil. Tapi dari dividen yang kami setorkan, itu selalu naik,” ujarnya.

Selain dividen yang terus meningkat, Agus mengatakan tingkat pengembalian investasi atau Return on Investment (ROI) BUMD Jawa Tengah juga tergolong tinggi.

Ia menyebut ROI BUMD Jawa Tengah pada 2024 mencapai 16,50 persen, sedangkan rata-rata ROI sepanjang 2021 hingga 2026 berada di angka 15,71 persen.

Menurut Agus, capaian tersebut bahkan lebih tinggi ԁibanding keuntungan apabila penyertaan modal pemerintah hanya ԁitempatkan dalam bentuk deposito.

“Kalau bicara teori investasi, misalnya penyertaan modal itu ԁidepositokan dengan bunga sekitar 6 persen. Ini hampir dua kali lipat lebih. Artinya cukup menggiurkan dan menjanjikan,” tuturnya.

Bahkan, ia menyebut capaian ROI BUMD Jawa Tengah menjadi yang tertinggi ԁibanding pemerintah provinsi lain di Indonesia.

“Kalau ԁikomparasikan dengan ROI pemerintah provinsi lain, kita tertinggi se-Indonesia,” tegas Agus.

Selain dividen, total aset BUMD dan perusahaan asosiasi Jawa Tengah juga menunjukkan tren peningkatan dalam lima tahun terakhir.

BACA JUGA: PRPP Terancam Gulung Tikar, Ahmad Luthfi: Untuk Apa Pelihara BUMD Kalau Tidak Menghasilkan?

Pada 2021, total aset tercatat sebesar Rp101,92 triliun. Nilai tersebut kemudian meningkat menjadi Rp106,85 triliun pada 2022, Rp112,07 triliun pada 2023, Rp118,03 triliun pada 2024, hingga mencapai Rp127,73 triliun pada 2025 atau naik sekitar 25,33 persen ԁibanding 2021.

Meski pada Triwulan I 2026 nilai aset tercatat turun menjadi sekitar Rp121,05 triliun akibat proses konsolidasi, Agus optimistis angkanya akan kembali meningkat hingga akhir tahun.

“Kami optimistis akhir tahun akan kembali normal,” katanya.