Kemudian, lanjutnya, sound system juga dirasa masih kurang sesuai untuk pertunjukan seni. “Soundnya kurang sesuai untuk pertunjukan seni, karena suasananya menggema dan kalau duduk di belakang dengarnya cuma gema saja,” tuturnya.
Optimalisasi Aset di TBRS
Senada, Sekretaris Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo mengatakan jika pihaknya ingin melihat optimalisasi aset yang ada di TBRS khususnya di Gedung Ki Narto Sabdo yang baru.
“Optimalisasi ini baik dalam rangka mengoptimalkan aset, gedung dan juga mengoptimalkan pendapatan pemerintah,” tutur Anang.
Anang menyebut jika memang perlu adanya kajian ulang tarif sewa yang saat ini ada di Peraturan Daerah (Perda) sebesar Rp 25 juta untuk sekali pakai.
“Nah apakah layak atau tidak kan harus kita evaluasi. Karena jika dilihat luasan gedung dan fasilitas seperti ini harga Rp. 25 juta itu ringan hanya memang butuh sentuhan lagi sehingga lebih optimal,” jelas Anang.
Ia melihat memang harus ada pembenahan seperti tata ruang dan tata suara. Seperti halnya tata ruang ini termasuk pengkondisian ruangan AC. Pasalnya, masih banyak titik yang bocor hingga ke plafon.
“Jadi sambil kita lihat paling tidak kita buat kajian sederhana untuk optimalisasi aset di gedung baru. Jangan sampai gedung baru ini masyarakat tidak mau menggunakan. Kemudian tambah semakin lama rusak dan gedung jadi mangkrak,” pungkasnya.
Penambahan dan Pengadaan Fasilitas di 2024
Sementara itu, Kepala UPTD TBRS Semarang, Agung Ciptaningtyas mengatakan rencananya pada tahun 2024, gedung kesenian TBRS akan di optimalkan. Hal ini agar bisa seniman gunakan dengan fasilitas yang memadai.
Menurut dia, 2024 ini akan ada pengadaan penataan cahaya atau lighting berupa LED dan juga beberapa mebeler atau furnitur untuk gedung Ki Narto Sabdo.
“Memang fasilitas harus terpenuhi, selain gedungnya yang bagus fasilitas juga harus bagus,” kata Agung.





