Nasional

Singgung Film Pesta Babi, Wamentan Sudaryono: Bukan Keruk-keruk, Food Estate Tak Rebut Lahan Petani

×

Singgung Film Pesta Babi, Wamentan Sudaryono: Bukan Keruk-keruk, Food Estate Tak Rebut Lahan Petani

Sebarkan artikel ini
Pesta Babi
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, usai membuka Rembuk Petani Tebu Rakyat dalam Penguatan Ekosistem Industri Gula Melalui Sinergi Koperasi Berbasis Koperasi, LPDB Koperasi dan PT PG Rajawali I di Hotel Novotel Semarang, Selasa, 14 Juli 2026. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

“Kita ini sudah swasembada gula konsumsi. Jadi tidak lagi impor untuk gula kebutuhan konsumsi. Yang masih impor adalah kebutuhan gula rafinasi, kebutuhan gula industri,” kata Sudaryono.

Ia mengatakan pemerintah menargetkan seluruh kebutuhan gula, baik konsumsi maupun industri, secara bertahap dapat ԁipenuhi dari produksi dalam negeri.

Selain itu, peningkatan produksi tebu juga ԁipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan bioetanol seiring rencana penerapan campuran bahan bakar E10 hingga E20.

“Ke depannya arahan Presiden itu bagaimana seluruh kebutuhan gula, baik konsumsi maupun rafinasi untuk industri, sebisa mungkin pelan-pelan harus kita penuhi dari dalam negeri. Termasuk kebutuhan biofuel atau bioetanol karena kita mau rencana E10 dan E20, salah satunya berasal dari tebu,” jelasnya.

BACA JUGA: Wamen Polkam Benarkan Polemik Nobar Film “Pesta Babi” Berpotensi Pengaruhi Indeks Demokrasi

Lebih jauh, Sudaryono menilai tantangan utama industri gula nasional saat ini bukan lagi luas lahan, melainkan produktivitas tanaman tebu serta rendemen atau kandungan gula yang ԁihasilkan.

Ia menyebut peningkatan kedua aspek tersebut menjadi faktor utama yang mendorong Indonesia mencapai swasembada gula konsumsi.

“Yang menjadi persoalan itu produktivitas per ton kita sempat sangat rendah dan rendemen per tonnya juga rendah. Nah, ini sekarang sudah beberapa tahun kita tingkatkan, sudah naik,” ujarnya.

Apabila produktivitas tebu dan rendemen terus meningkat, biaya produksi gula akan semakin efisien sehingga harga gula berpotensi turun tanpa mengurangi kesejahteraan petani.

“Kalau produktivitas satu hektar tinggi, konversi dari satu hektar kebun tebu menjadi gula itu tinggi, maka ongkos produksi gula per hektarnya turun. Kalau sudah seperti negara-negara yang produktivitas dan rendemennya tinggi, harga gula ke depan kita harapkan turun tanpa mengurangi kesejahteraan petani,” tandasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp