SEMARANG, beritajateng.tv – Kebijakan libur selama Ramadan 1446 H/2025 M menimbulkan pro dan kontra di kalangan orang tua siswa.
Sebelumnya, pemerintah telah mengeluarkan Surat Edaran Bersama (SEB) dengan kebijakan dalam pelaksanaan skema pembelajaran periode bulan Ramadan 2025.
Secara perhitungan, siswa total memperoleh kesempatan belajar mandiri atau libur selama 2 minggu saat bulan puasa dan Idul Fitri.
Eko Fataip, salah satu orang tua siswa SDN Pandean Lamper 02, mengaku menyambut baik kebijakan tersebut. Mulanya, ia tak setuju sewaktu muncul rumor siswa libur sebulan penuh selama bulan puasa.
Menurutnya, siswa masih perlu beraktivitas melakukan pembelajaran di sekolah secara langsung meski sedang berpuasa.
“Ada waktu anak diberi ruang belajar di rumah dan sekolah, fine-fine saja. Sehingga, berimbang momen libur dan masuk sekolahnya,” ujar Fataip.
Dengan kebijakan ini, lanjut dia, anaknya masih bisa belajar materi umum sekaligus belajar materi keagamaan serta meningkatkan iman dan takwa.
“Kalau kebanyakan masuk [sekolah] energinya lebih banyak terkuras, atau kalau liburnya kebanyakan juga tidak baik,” sambungnya.
Hal serupa juga tersampaikan oleh salah satu orang tua siswa SD Istiqomah, Ranindipasita. Dirinya mengaku setuju dengan adanya sistem pembelajaran di bulan Ramadan yang tidak sepenuhnya libur.
“Anak-anak tetap ada kegiatan di sekolah, bisa menambah ilmu agama. Daripada full libur dan di rumah tidak ada kegiatan pembelajaran, bisa bosen. Selain itu juga meminimalisasi anak-anak main gadget terus,” ucap dia.
Penanaman karakter bagi siswa
Sementara itu, kebijakan libur Ramadan juga mendapat respons positif dari sekolah. Kepala TKN Pembina Semarang Sri Mulyani, misalnya; ia sangat setuju dan mengapresiasi kebijakan ini.
Menurutnya, peraturan pembelajaran ini memungkinkan siswa untuk saling menghargai perbedaan agama sejak dini. Selain itu, siswa yang beragama muslim tetap bisa belajar berpuasa di sekolah. Bahkan, ia menilai adanya peraturan itu bisa menanamkan karakter baik pada anak.
“Jadi untuk kegiatan Ramadan itu bisa sekaligus untuk penanaman karakter, menjadi pembiasaan yang setiap hari kami lakukan di sekolahan,” katanya.
Lebih jelas, Mulyani mengungkap jika belum ada peraturan resmi yang mengatur terkait pembagian jadwal. Kendati demikian, ia telah memiliki rencana jadwal sebagaimana biasanya.
Bagi yang siswa yang beragama Islam, jelas Mulyani, akan ada kegiatan keagamaan dengan porsi sebesar 50 hingga 75 persen. Sementara untuk siswa beragama selain Islam, juga akan menyesuaikan kegiatan berbasis keagamaan.
“Mungkin ada pengaturan jam. Saya kan tidak bisa menentukan jam sendiri, tentunya pemerintah [yang menentukan] porsinya untuk anak PAUD jam segini sampe jam segini, SD jam segini sampe segini,” harapnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





