Ho-jin lalu menawarkan solusi yang terdengar sederhana, tetapi bermakna besar. Ia mengajak Mu-hee berjanji untuk tidak putus selama satu bulan saja.
Kesepakatan dengan “tanggal kedaluwarsa” ini justru memberi rasa aman. Mu-hee tidak lagi merasa tertekan oleh konsep cinta selamanya. Hubungan mereka berjalan lebih jujur dan tenang.
Plot twist muncul saat fakta tentang orang tua Mu-hee terungkap. Keduanya ternyata masih hidup. Mu-hee memutuskan menghadapi masa lalunya seorang diri. Ia meminta putus sementara, bukan untuk menyerah, melainkan untuk menyembuhkan diri.
Keputusan ini menegaskan kedewasaan karakter Mu-hee. Ia ingin kembali sebagai pribadi utuh, bukan seseorang yang masih terjebak trauma. Ho-jin menghormati pilihan tersebut dan menunggu tanpa paksaan.
Akhir cerita menyajikan momen yang bikin lega. Mu-hee kembali setelah berdamai dengan dirinya sendiri. Ia menemui Ho-jin di observatorium. Adegan penutup memperlihatkan mereka berciuman dengan penuh keyakinan.
Momen tersebut menegaskan pesan utama drama ini. Cinta tidak selalu soal memiliki cepat. Cinta kadang soal menunggu, memahami, dan belajar berbicara dalam bahasa yang sama. Pada akhirnya, Ho-jin dan Mu-hee berhasil menerjemahkan cinta mereka dengan jujur.
Tidak heran jika Can This Love Be Translated? menjadi salah satu drakor paling dibicarakan saat ini. Ending-nya terasa realistis, hangat, dan sangat manusiawi. (*)





