Catatan Editor

Sudah Jatuh Tertimpa Suporter

×

Sudah Jatuh Tertimpa Suporter

Sebarkan artikel ini
Di Buku | Gambar AI | Frankenstein | Semarang Tertinggal | Kita Kami | 2024 PPDB | Sato Reang
Mu'ammar Qadafi. (Foto: Dok. Pribadi)

DI KOTA SEMARANG, sepakbola tak bisa dipisahkan dari politik. Apalagi, CEO klub bola kebanggan ibu kota Jawa Tengah, PSIS Semarang, ini sendirinya merupakan seorang politisi, yakni Alamsyah Satyanegara Sukawijaya alias Yoyok Sukawi. Meskipun, saat ini di Indonesia bukan Yoyok seorang yang menjadi politikus sekaligus petinggi klub bola. Salah satunya, sebut saja, Kaesang Pangarep dengan Persis Solo-nya. Namun, Yoyok Sukawi-lah yang agaknya paling kentara “memperalat” sepak bola sebagai kendaraan politiknya.

Dua periode anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah pula dua periode anggota DPR RI telah ia raih berkat perangkat sepak bola paling masif: suporter bola. PSIS Semarang sendiri memiliki dua basis suporter yang terbilang cukup besar, yaitu Panser Biru dan SneX. Jumlah anggotanya, masing-masing katakanlah 10 ribuan—Panser Biru mengklaim memiliki 18 ribuan anggota. Maka, dari dua kelompok itu, Yoyok gampang saja beroleh sekira 15-20 ribu suara dalam setiap pemilihan.

Masa-masa itu, performa PSIS Semarang terbilang lumayan—untuk tak menyebutnya buruk. PSIS masih kerap kali bercokol di papan atas klasemen liga, meskipun belum pernah lagi memuncakinya sebagai juara sejak 1999. Dan loyalitas suporter pun terus berpihak pada Yoyok, baik di dalam maupun luar lapangan. Maka benarlah adanya salah satu lumbung suara terbanyak bagi Yoyok Sukawi dalam politik ialah dari suporter PSIS Semarang.

BACA JUGA: Podcast: Kepareng Wareng: Suporter Bakal Terus Boikot Nonton PSIS Biar Yoyok Out

Balada PSIS Semarang: Suporter vs. CEO

Akan tetapi, seolah-olah dunia terbalik, pada Pilkada 2024 lalu justru ramai pemberitaan CEO PSIS Semarang mempolisikan pentolan suporternya sendiri. Pasalnya, Yoyok Sukawi maju sebagai Calon Wali Kota Semarang di tengah-tengah kondisi PSIS yang sedang tak keruan. PSIS mulai sering kalah tanding, salah satunya lantaran tak bisa berkandang di markas utama, Stadion Jatidiri. Apalagi, sebelumnya Yoyok tampak “menjual” pemain-pemain jempolan PSIS yang lantas banyak pihak nilai sebagai ajang mencari dana untuk modal kampanye. Tak ingin tinggal diam dengan keadaan mengenaskan klub idolanya, para suporter lantas mulai melancarkan kritik kepada Yoyok untuk mengembalikan marwah PSIS Semarang.

Dan demikianlah, saking vokalnya mengkritik, dedengkot Panser Biru, Kepareng Wareng, beroleh pelaporan ke kepolisian oleh pihak Yoyok Sukawi, orang yang telah bertahun-tahun ia dukung dalam bola dan politik. Dari situlah perlawan suporter bermula. Terlebih, dengan tuntutan terhadap Yoyok mengenai nasib buruk yang sedang menimpa PSIS, yakni “Ora Empat Besar, Ora Wali Kota”. Tambah pula dengan kegeraman suporter yang menilai dirinya tak profesional dalam mengelola PSIS Semarang; terlihat dari gaji pemain yang telat bahkan ia cicil sampai mesti menjual aset-aset miliknya, dari tambak hingga deposito keluarga.

Tuntutan tersebut pun menjadi nyata. Yoyok Sukawi berakhir kalah dalam Pemilihan Wali Kota Semarang 2024. Ia kalah tersebab belasan ribu suporter yang sebelumnya baru saja mengantarnya kembali menjadi anggota DPR RI justru memilih untuk mendukung lawannya dalam Pilkada Kota Semarang. Tak berhenti di situ, para suporter terus merongrongnya untuk menjual saham mayoritasnya agar beralih kepemilikan ke orang yang lebih mampu mengelola PSIS Semarang.

BACA JUGA: Ini Alasan Pentolan Panser Biru Kepareng Wareng Dukung Agustin-Iswar di Pilwalkot Semarang

Yoyok Sukawi di ujung tanduk

Perlawanan suporter PSIS pun terus berlanjut. Panser Biru dan SneX kini memutuskan untuk terus memboikot laga kandang PSIS Semarang. Tujuannya, tentu agar Yoyok Sukawi merugi dan berakhir menjual saham mayoritasnya. Namun, seolah menjiwai status politikus yang kerap kali tak tahu malu, Yoyok masih saja bebal dan tampaknya makin enggan melepas PSIS meski lagi-lagi ia mesti menjual aset lainnya—terakhir kali mobil lawas legendaris berpelat P 515—untuk menambal keuangan klub.

Namun langkah Yoyok kerap kali blunder. Belum lama ini, ia mencoba membenturkan suporter PSIS dengan ormas bahkan aparat kepolisian. Represifitas polisi pada aksi boikot suporter PSIS beberapa waktu yang lalu justru menjadi bumerang bagi Yoyok. Hal itu malah menambah simpati publik terhadap gerakan para suporter di tengah penilaian buruk masyarakat terhadap aparat kepolisian belakangan ini.

Dan memang begitulah nasib Yoyok Sukawi: sudah jatuh tertimpa suporter; hendak digulingkan pula. Belasan ribu suporter yang dulu menjadi pijakan tangganya dalam meniti karier sebagai politikus malah membuatnya terjerembab kalah dalam Pilkada pula terhinakan dalam statusnya sebagai CEO PSIS Semarang. Dan layaknya tangga bambu, masing-masing suporter lantas memilih meruncingkan diri untuk mendesak sosok yang pernah mereka bantu naik itu agar keluar dari klub kesayangan mereka.

“Yoyok Out!” seru para suporter PSIS Semarang, kini dan nanti. (*)

Mu’ammar Qadafi
Editor beritajateng.tv

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp