Survei SPIN Tunjukkan Elektabilitas Prabowo Teratas dan Nantikan Kelanjutan Program Jokowi

Presiden Jokowi bersama Kemenhan

Jakarta, 25/10 (BeritaJateng.tv) – Nama Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Prabowo Subianto; Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo; dan eks Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan; selalu masuk tiga besar sebagai calon presiden (capres) 2024 dengan elektabilitas tertentu.

Hal tersebut kembali terkonfirmasi dalam riset lembaga Survei dan Polling Indonesia (SPIN), yang dipresentasikan pada Senin (24/10). Penelitian ini digelar 7-16 Oktober 2022 dengan melibat 1.230, sedangkan margin of error sekitar 2,8% pada tingkat kepercayaan 95%.

Dalam survei itu, ketika responden ditanya tentang capres pilihannya dari 18 nama yang disodorkan, sebanyak 31,6% di antaranya memilih Prabowo. Lalu, sebesar 19,3% lainnya menjagokan Ganjar dan Anies 11,5%.

“Hasil survei masih menunjukkan fakta bahwa Prabowo di samping bertengger di posisi puncak elektabilitas, ia juga justru memeroleh peningkatan perolehan dukungan di angka 31,6%,” ucap Direktur Eksekutif SPIN, Igor Dirgantara, dalam paparannya.

Igor melanjutkan, dukungan terhadap Prabowo tetap teratas daripada kedua rivalnya tersebut ketika responden ditanya tentang siapa yang layak menjadi capres untuk melanjutkan program-program pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Ada 16,2% yang memilih Menteri Pertahanan (Menhan) itu, sedangkan Ganjar 13,1% dan Anies 2,9%. Namun, 45,8% memilih tidak menjawab.

Sementara itu, ada 40,5% responden mengharapkan capres 2024 melanjutkan program-program Jokowi atau menginginkan kesinambungan. Lalu, 28,1% mau kontiunitas dan program baru, 16,5% membuat kebijakan anyar, dan 14,9% menjawab tidak tahu.

“Dari publik yang memilih melanjutkan program pemerintahan Jokowi, 16,2% meyakini Prabowo akan melanjutkan, disusul oleh Ganjar dengan 13,1% publik yang yakin, kemudian Puan dengan 8,6%. Sementara untuk Anies dan AHY, hanya memeroleh masing-masing keyakinan public sebesar 2,9% dan 1,5% saja,” tuturnya.

Menurut Igor, ada beberapa faktor yang membuat elektabilitas Prabowo kokoh di puncak dibandingkan Ganjar dan Anies. Misalnya, sikap politik eks Danjen Kopassus itu yang akhirnya bergabung dengan pemerintah. Gerindra sempat menjadi oposisi Jokowi pada 2014-2019.

“Sikap politik Prabowo yang lebih mementingkan persatuan bangsa dan negara dengan menerima tawaran memerintah bersama demi bangsa dan negara sebagai menteri pertahanan ternyata mampu memeroleh simpati publik,” ungkapnya.

Langkah tersebut, lanjut Igor, juga membuat publik memandang Prabowo bukan sebagai tokoh pendendam terhadap orang-orang yang dibesarkannya. Gerindra merupakan salah satu pengusung utama Jokowi-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jakarta 2012 selain Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Gerindra pun menjadi pendukung Anies-Sandiaga Uno pada Pilgub Jakarta 2017. Namun, Prabowo berpeluang bersaing dengan Anies, yang diusung Partai NasDem, pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

“Dapat dikatakan juga, Prabowo dinilai publik sebagai korban politik (political victim) karena bukan dukungan yang didapat (dari tokoh-tokoh yang pernah diusung), justru sebaliknya: menyimpang menjadi kompetitor politik. Tampaknya deklarasi kesiapan dan kesediaan Anies sebagai capres oleh NasDem semakin menyadarkan publik dan menguatkan simpati publik terhadap Prabowo sebagai political victim,” urai Igor.

Igor menambahkan, tingginya elektabilitas Prabowo dan dipercaya sebagai penerus program-program Jokowi lantaran kinerjanya dalam memimpin Kementerian Pertahanan (Kemhan) kinclong. Dengan demikian, dipandang sebagai jalan tengah, termasuk bagi kelompok agamis dan nasionalis, dalam memecah polarisasi.

“Kinerjanya sebagai menhan juga bagus. Jadi, dengan kinerja bagus, Prabowo bisa dipandang mampu kendalikan oligarki atau menjadi jalan tengah. Kalau cebong pasti memilih Ganjar, kadrun (memilih) Anies,” tandasnya. (Ak/El)

Leave a Reply