SEMARANG, beritajateng.tv – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah melalui Dinas Pendidikan (Disdik) mengalokasikan anggaran sekitar Rp3,014 triliun pada Tahun Anggaran 2026 untuk meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya dalam penguatan literasi peserta didik.
Kepala Bidang (Kabid) Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Jawa Tengah, Johan Hadiyanto, mengatakan anggaran tersebut untuk mendorong peningkatan capaian pendidikan di daerah.
“Dalam rangka merealisasikan upaya penguatan literasi, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah telah mengalokasikan anggaran kurang lebih sebesar Rp3,014 triliun,” ujar Johan saat memberikan sambutan dalam acara Regional Policy Roundtable di Hotel Ibis Style, Kota Semarang, Selasa, 21 April 2026.
BACA JUGA: Suspek Campak Capai 2.188 Kasus, Pemprov Jateng Galakkan Imunisasi dan Deteksi Dini
Ia menjelaskan, anggaran tersebut terbagi ke dalam beberapa hal. Yakni 4 program, 8 kegiatan, dan 30 subkegiatan yang di arahkan untuk meningkatkan indikator pendidikan.
“Anggaran itu untuk peningkatan capaian target indikator harapan lama sekolah serta kemampuan literasi dan numerasi,” jelasnya.
Fokus Anggaran untuk Kejar Harapan Lama Sekolah
Johan menyebut, peningkatan literasi menjadi salah satu kunci dalam memperbaiki kualitas sumber daya manusia (SDM) di Jawa Tengah. Menurutnya, kemampuan literasi tidak hanya berkaitan dengan membaca, tetapi juga memahami dan menggunakan informasi dalam kehidupan sehari-hari.
“Literasi itu menggambarkan sejauh mana peserta didik mampu memahami dan menggunakan berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah,” kata Johan.
Selain literasi, tutur Johan, Pemprov Jawa Tengah turut menargetkan peningkatan kemampuan numerasi. Yakni kemampuan berpikir menggunakan konsep dan logika matematika dalam berbagai situasi.
“Numerasi itu kemampuan berpikir menggunakan konsep dan prosedur matematika untuk menyelesaikan berbagai konteks masalah,” imbuh Johan.
Literasi dan Numerasi Jadi Indikator Kualitas Pendidikan
Lebih lanjut, Johan menjelaskan kemampuan literasi dan numerasi menjadi indikator utama dalam menilai kualitas hasil pembelajaran. Ia menyebut, pemerintah menggunakan indikator internasional seperti Programme for International Student Assessment (PISA) untuk mengukur capaian tersebut.
“Nilai PISA itu akan terlihat dari kemampuan membaca, matematika, dan sains peserta didik,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan kedua aspek tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong daya saing sumber daya manusia di masa depan.
Lebih jauh, Johan menegaskan keberhasilan peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran, tetapi juga pada sinkronisasi program antar pemerintah daerah. Ia menambahkan, perencanaan yang matang hingga tingkat kegiatan dan subkegiatan menjadi kunci agar program yang di jalankan dapat tepat sasaran.
Johan juga menekankan bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak bisa terlepaskan dari proses pembentukan kemampuan dasar anak sejak usia dini.
Menurutnya, penguatan literasi dan numerasi tidak hanya terlaksana di satuan pendidikan formal, tetapi juga perlu didukung melalui pengasuhan dan stimulasi sejak awal kehidupan anak
“Yang menjadi tantangan adalah bagaimana sinkronisasi program dan kegiatan antara provinsi dengan kabupaten/kota agar benar-benar selaras. Perlu pencermatan perencanaan supaya kebijakan yang sudah ditetapkan benar-benar bisa direalisasikan di tingkat pelaksanaan,” ungkap Johan.
Pengasuhan Dini hingga Lintas Sektor Dinilai Jadi Kunci Penguatan Literasi
Sementara itu, Regional Lead Tanoto Foundation, Anang Ainur Roziqin, menyampaikan bahwa pengasuhan dan stimulasi dini tidak hanya menjadi urusan keluarga, tetapi juga membutuhkan intervensi terstruktur lintas sektor.
“Mulai dari kesehatan, gizi, layanan ibu dan anak, pendidikan PAUD berkualitas, hingga perlindungan anak dan peran komunitas,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan aspek tersebut perlu menjadi perhatian dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah, termasuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
BACA JUGA: Sarjana Tak Lagi Istimewa, Pengamat Pendidikan Unnes: Inflasi Gelar Meningkat, Dunia Kerja Kian Ketat
Ia pun mengapresiasi langkah sejumlah pemerintah daerah di Jawa Tengah yang telah mulai memasukkan pengasuhan serta literasi dan numerasi dalam dokumen perencanaan.
“Kami melihat di Kota Semarang, Kabupaten Kendal, dan Kabupaten Tegal sudah berkomitmen memasukkan pengasuhan dan stimulasi dini serta literasi numerasi dalam RPJMD 2025–2029. Harapannya dokumen ini bisa terimplementasi di lapangan dan manfaatnya masyarakat rasakan,” ungkap Anang. (*)
Editor: Farah Nazila




