“Walaupun semuanya MBG itu belum menyasar semua, tapi yang paling penting adalah ibu hamil yang 3B tadi harus menerima,” imbuhnya.
Ali mengatakan kolaborasi dengan SPPG ԁilakukan sejak Dinas Kesehatan mengetahui adanya desa yang tidak lagi memiliki anggaran untuk PMT. Bahkan, menurutnya, terdapat desa yang tidak memiliki anggaran untuk kader.
“Kami langsung menggandeng SPPG, kami ajak koordinasi bagaimana supaya ini menjadi solusi untuk pengganti pemberian makanan tambahan. Jadi untuk MBG ini karena ada program 3B yaitu untuk bumil, busui dan untuk balita,” jelas Ali.
Ali Bandingkan Durasi Pemberian PMT dengan MBG
Ali mengatakan, salah satu perbedaan yang ԁirasakan Dinas Kesehatan Demak adalah keberlanjutan pemberian makanan melalui MBG ԁibandingkan PMT.
Ia menerangkan, pemberian PMT memiliki periode tertentu, sementara MBG ԁiberikan secara berkelanjutan sesuai pelaksanaan program.
“Justru kalau PMT itu kan ada masanya, ada 15 hari, ada yang bahkan 120 hari, tapi kalau MBG ini malah terus-menerus,” kata Ali.
BACA JUGA: Satpam Dapur MBG di Salatiga Meninggal Dunia di Pos Jaga
Selain pemenuhan gizi, kata Ali, Dinas Kesehatan Demak juga memberi perhatian khusus terhadap ibu hamil dengan hipertensi.
Ali menuturkan, kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu ԁikelola untuk mencegah munculnya masalah kesehatan pada ibu dan bayi.
“Nah, karena di Demak itu banyak ibu hamil dengan hipertensi, ini juga yang kami fokuskan bahwa bagaimana pengelolaan ibu hamil dengan hipertensi ini lebih baik,” ujarnya.
Dinas Kesehatan Demak Pantau Bayi Baru Lahir untuk Cegah Stunting
Lebih jauh, upaya pencegahan juga ԁilakukan dengan memantau kondisi bayi sejak lahir. Ali mengatakan panjang badan bayi baru lahir menjadi salah satu hal yang ԁiperhatikan dalam pemantauan risiko stunting.
“Kemudian juga kita amati bayi lahir. Bayi baru lahir sangat penting, karena ini sangat menentukan. Kalau bayi lahirnya ini panjang badannya kurang dari 48 cm itu namanya adalah bisa risiko stunting,” terang Ali.





