SEMARANG, beritajateng.tv – Bagus Ariyadi (50), ayah dari korban dugaan pengeroyokan mahasiswa Undip, Arnendo Arian Adhi Permana (20), menyatakan kekecewaan mendalam atas tindakan kekerasan fisik yang menimpa putranya.
Ia menyayangkan perilaku tersebut justru diduga dilakukan oleh sesama kalangan mahasiswa yang secara intelektual seharusnya lebih memahami koridor hukum.
Hingga saat ini, Ari masih berjuang memulihkan kondisi mental sang putra sembari menunggu kejelasan proses hukum yang telah dilaporkan sejak empat bulan lalu.
BACA JUGA: Orang Tua Sebut Arnendo Mahasiswa Undip Korban Dugaan Kekerasan Takut ke Kampus: Masih Trauma
Terkait tuduhan pelecehan seksual yang menjadi dalih penganiayaan, Ari mengaku telah melakukan pendekatan personal yang mendalam kepada Arnendo. Ia telah menekankan kepada putranya mengenai segala konsekuensi hukum jika tuduhan itu benar.
“Saya tanya berkali-kali kepada Arnendo, dan ia menegaskan tidak pernah melakukan seperti tuduhan. Kalaupun ada tuduhan, mestinya buktikan secara hukum, bukan dengan cara-cara kekerasan yang tidak pantas oleh orang terdidik,” tegas Ari saat beritajateng.tv temui di Jambu, Kabupaten Semarang, Kamis, 5 Maret 2026.
Harapan Orang Tua Atas Pendidikan Ernando di Undip
Bagi Ari yang sehari-hari bekerja sebagai penjual nasi goreng, Arnendo adalah tumpuan harapan keluarga untuk meraih derajat hidup yang lebih baik melalui pendidikan tinggi di Undip. Namun, peristiwa ini membuat harapan tersebut seolah di ujung tanduk.
“Harapan saya Arnendo bisa menyelesaikan pendidikannya. Saya ingin dia sukses, tidak hanya sekadar menjadi penjual nasi goreng seperti orang tuanya. Tapi sekarang, secara mental dan harapan, dia sudah kena,” ungkapnya bernada getir.
Ari juga menyayangkan hingga saat ini belum ada perwakilan dari pihak kampus Undip maupun pihak terduga pelaku yang datang untuk sekadar melihat kondisi Arnendo. Baginya, penanganan kasus ini terasa berjalan di tempat, sementara dampak psikologis bagi anaknya kian menetap.





