SALATIGA, beritajateng.tv – Mulai hari ini, hingga Jumat 26 Juni 2026 mendatang, para penjual daging sapi bakal tidak akan ditemui pembeli di Pasar Raya, Kota Salatiga.
Sebab ratusan penjual daging sapi di pasar tradisional terbesar, di Kota Salatiga tersebut sepakat ‘mogok’ berjualan selama lima hari ke depan.
Mereka mengaku, pemicu utama tindakan tersebut adalah kelangkaan daging sapi, yang sudah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.
Akibatnya para penjual daging sapi ini khawatir daging sapi tidak laku terjual, karena harganya semakin tidak terjangkau oleh masyarakat.
Ketua Paguyuban Pedagang Daging Sapi Kota Salatiga, Apriyatun (45) mengatakan, kelangkaan daging sapi sebenarnya mulai terasa sejak dua tahun terakhir.
BACA JUGA: Business Matching Kemendag Catat Transaksi Rp2 Triliun, Produk UMKM Salatiga Tembus Australia dan Malaysia
Tepatnya sejak wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) merebak. Sehingga para peternak kemudian takut memelihara hewan ternak sapi lebih banyak.
Karena jumlah sapi yang ada di kandang perernak berkurang, dampaknya daging sapi yang sampai ke para penjual daging juga terus mengalami penurunan.
Akibatnya, harga daging sapi di tingkat penjual terus melonjak dan kelangkaan kembali terjadi dalam benerapa pekan terakhir di Pasar Raya Kota Salatiga.
Bahkan saat ini, harga daging sapi di tingkat penjual, di Pasar Raya Kota Salatiga mencapai Rp 140.000 per kilogram dan bagi masyarakat cukup mahal.
Bahkan harga tersebut sudah jauh melampaui harga daging sapi pada momentum hari raya Idul Fitri 2026 lalu. Yang hanya Rp 125.000 per kilogram.
“Terus terang karena harganya tinggi kami takut tidak ada yang membeli,” tegasnya, saat beritajateng.tv konfirmasi di Pasar Raya Kota Salatiga, Senin 22 Juni 2026.
Sejak harga daging sapi melonjak tinggi, lanjutnya, tidak sedikit para pembeli dan pelanggan yang kemudian beralih membeli daging ayam.
Ia juga menyebut, untuk saat ini dampak dari kelangkaan daging sapi tidak hanya dirasakan para penjual. Di tingkat pemasok, ia sebut juga ikut terdampak.
Bahkan ada pemasok yang mengaku mengalami kerugian hingga Rp 7 juta. Setelah daging satu ekor sapai yang sudah ia belinya tidak terbeli.
Lebih lanjut, Apriyatun menambahkan, di Kota Salatiga saat ini ada lebih dari 100 pedagang dan penjual yang bernaung di dalam paguyuban.
Karena harganya terus naik, para semuanya merasakan keresahan yang sama. mengaku resah. Namun ia menekankan apa yang mereka lakukan bukan demo.
Namun karena para penjual tidak mau merugi terus menerus. Sehingga para penjual daging sapi ini juga mengharapkan peran pemerintah.
“Harapan kami pemerintah bisa tirun tangan untuk menekan harga daging sapi. Sehingga harga komoditas ini bisa kembali stabil di tingkat pasar,” tandasnya.
Kabid Pasar Dinas Perdagangan Buka Suara
Menanggapi hal ini, Kabid Pasar Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Salatiga, Bagus Arifianto bisa memahami keresahan para penjual daging sapi.
Akibat sikap para penjual daging sapi, di los daging Pasar Raya Kota Salatiga terpantau lengang tidak seperti aktivitas biasanya.
BACA JUGA: Kliwon Sapi Jumbo Pilihan Presiden Prabowo untuk Warga Muktiharjo Kidul Semarang, Bobotnya 1,1 Ton!
Terkait dengan kelangkaan seperti keluhan para penjual, Bagus juga mengaku akan berkoordinasi dengan Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Salatiga
“Akan kami koordinasikan terlebih dahulu dengan Dinas Pangan dan Pertanian, karena kebijakan yang akan di ambil nantinya seperti apa, juga bukan wilayah kami,” jelasnya.
Sementara itu, Yanti (38) salah satu warga Kota Salatiga mengungkapkan, tidak mengetahui para penjual daging sapi di Pasar Raya ‘mogok’ berjualan.
“Niatnya mau berbelanja daging sapi, ternyata di los daging suasananya sepi. Tidak ada penjual daging sapi, kecuali penjual daging ayam,” ungkapnya. (*)
Editor: Farah Nazila





