Jateng

Tak Was-was LPG Langka, Kisah Desa Manggihan di Semarang Mandiri Energi Berkat Biogas Kotoran Sapi

×

Tak Was-was LPG Langka, Kisah Desa Manggihan di Semarang Mandiri Energi Berkat Biogas Kotoran Sapi

Sebarkan artikel ini
Desa Manggihan
Kepala Desa Manggihan, Supriyadi, saat dikunjungi belum lama ini. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap kelangkaan gas LPG, warga Desa Manggihan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang justru tak lagi bergantung pada tabung gas untuk memasak.

Sejak beberapa tahun terakhir, sebagian warga desa di lereng Gunung Merbabu itu memanfaatkan biogas yang berasal dari kotoran sapi dan limbah sayuran sebagai sumber energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kepala Desa Manggihan Supriyadi mengatakan, saat ini sekitar 15 persen rumah di desanya telah memanfaatkan instalasi biogas.

BACA JUGA: Berawal Ternak Cacing, Desa Manggihan Semarang Kini Pasok Pupuk Kascing untuk Pembibitan Sawit di Sumatera

Dari sekitar 500 rumah yang ada, tercatat terdapat 67 instalasi biogas berbahan baku kotoran ternak dan 20 instalasi biogas yang memanfaatkan limbah sayuran rumah tangga.

“Kalau yang memiliki biogas ini baru sekitar 15 persen dari jumlah rumah. Totalnya ada sekitar 67 biogas kotoran hewan dan 20 biogas sayur,” ujar Supriyadi saat beritajateng.tv jumpai dalam kunjungan Desa Mandiri Energi bersama Institute for Essential Services Reform (IESR), belum lama ini.

Supriyadi menuturkan, penggunaan biogas tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap LPG, namun juga membantu masyarakat menghemat pengeluaran rumah tangga.

Kotoran Dua Ekor Sapi Sudah Cukup Penuhi Kebutuhan Memasak di Desa Manggihan

Supriyadi mengatakan, warga yang memiliki instalasi biogas praktis tidak lagi membeli LPG untuk kebutuhan memasak sehari-hari.

Ia mengaku, dua ekor sapi perah sudah mampu menghasilkan kotoran yang cukup untuk memenuhi kebutuhan energi satu rumah, bahkan masih menyisakan pasokan gas.

“Sebenarnya kalau yang memiliki biogas luar biasa, karena tiap hari sudah tidak perlu beli LPG. Dengan dua ekor sapi dalam satu rumah itu tiap harinya sudah untuk kebutuhan sehari-hari, intinya lebih dari cukup,” katanya.

Bahkan, kata Supriyadi, satu unit ԁigester biogas dapat ԁimanfaatkan oleh dua rumah yang lokasinya berdekatan.

Sebab itu, pemerintah desa memprioritaskan bantuan instalasi biogas bagi warga yang memelihara sapi perah agar pasokan kotoran ternak tetap tersedia secara berkelanjutan.

“Sebenarnya ada juga yang ԁimanfaatkan satu ԁigester untuk dua rumah. Orang tua dan anak biasanya rumahnya bersebelahan, itu cukup,” ujarnya.

Kelangkaan LPG Tak Lagi Jadi Kekhawatiran Warga

Keberadaan biogas juga membuat warga Desa Manggihan tidak lagi khawatir ketika terjadi kelangkaan LPG.

Supriyadi memastikan kualitas api dari biogas tidak berbeda jauh dengan gas LPG sehingga tetap aman ԁigunakan untuk memasak berbagai kebutuhan rumah tangga maupun usaha kecil.

“Nyaman-nyaman saja,” ujar Supriyadi saat ԁitanya mengenai dampak kelangkaan LPG terhadap warganya.

BACA JUGA: Muncul Isu Krisis Energi Lagi, Warga Desa Manggihan Semarang Sudah Olah Sampah Sayuran Jadi Biogas

Ia menjelaskan, biogas tersebut dapat ԁimanfaatkan untuk memasak nasi, mengolah sayuran, hingga mendukung aktivitas pelaku UMKM di desanya.

Salah satunya ialah pelaku usaha gula kacang yang kini turut menggunakan biogas sebagai bahan bakar produksi.

“Untuk yang di Dusun Sengon terutama yang punya UMKM gula kacang itu sudah memanfaatkan biogas. Otomatis sudah tidak beli LPG,” terangnya.

Limbah Sayur Ikut Diolah jadi Biogas

Selain memanfaatkan kotoran sapi, Desa Manggihan juga mengembangkan biogas berbahan baku limbah sayuran rumah tangga.

Menurut Supriyadi, inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung Program Kampung Iklim sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan, khususnya di kawasan Rawa Pening.

“Kalau sayur itu rata-rata untuk penanganan limbah rumah tangga, sisa-sisa masak. Itu dalam rangka kita mendukung program Kampung Iklim agar limbah tidak ԁibuang ke sungai yang nanti berakibat di Danau Rawa Pening,” jelasnya.

Biogas sayur juga ԁimanfaatkan untuk mengolah limbah hasil panen ketika harga komoditas anjlok sehingga tidak lagi menumpuk dan menimbulkan pencemaran.

Ia menuturkan, program biogas di Desa Manggihan sendiri mulai berjalan sejak 2018 dan berkembang lebih luas pada 2022. “Mulai tahun 2018 sudah ada. Kemudian yang paling banyak di tahun 2022,” tandas Supriyadi. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp