SEMARANG, beritajateng.tv – Siapa sangka pupuk yang 𝖽igunakan untuk pembibitan sawit di Sumatera ternyata berasal dari sebuah desa mandiri energi di lereng Gunung Merbabu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Pupuk organik tersebut berasal dari Desa Manggihan, Kecamatan Getasan. Wakil Petani Milenial Jawa Tengah, Sriyanto, mengembangkan pupuk yang ia namai “kascing” atau bekas cacing sejak lebih dari dua dekade lalu hingga mampu memasok kebutuhan perkebunan di luar Pulau Jawa.
Sriyanto mengaku mulai mengembangkan pupuk kascing sejak tahun 2000. Awalnya, ia hanya memelihara cacing Lumbricus tanpa mengetahui manfaat ekonomi yang besar dari limbah hasil budidaya cacing tersebut.
“Sebagai inisiator pupuk, sebenarnya saya sudah membuatnya sejak tahun 2000. Saat itu saya sudah mengembangkan pupuk organik kascing. Awal mulanya saya cuma memelihara cacing Lumbricus,” ujar Sriyanto saat beritajateng.tv jumpai dalam kunjungan Desa Mandiri Energi bersama Institute for Essential Services Reform (IESR), Minggu, 21 Juni 2026.
Sriyanto awalnya hanya membudidayakan cacing Lumbricus tanpa memikirkan potensi pupuk yang 𝖽ihasilkan. Saat itu, pasar cacing masih sangat terbatas sehingga ia mulai mencari cara lain agar budidaya tersebut memiliki nilai ekonomi yang lebih besar.
Bersama kelompoknya, Sriyanto kemudian mengikuti berbagai pameran pertanian dan melakukan pengujian laboratorium terhadap limbah hasil budidaya cacing tersebut. Hasilnya, pupuk kascing ternyata mengandung berbagai unsur hara yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman.
“Setelah itu kami ikut pameran-pameran tentang pupuk, lalu kami uji lab. Ternyata pupuk kascing itu mengandung banyak kandungan NPK. Ada unsur organik juga seperti hormon auksin, sitokinin, dan giberelin untuk pertumbuhan akar, batang, dan pembuahan,” ungkap Sriyanto.
Pernah Kirim 20 Ton Pupuk Kascing untuk Pembibitan Sawit di Sumatera
Setelah mengetahui kandungan pupuk kascing melalui pengujian laboratorium, Sriyanto terus mengembangkan produksinya hingga mampu menembus pasar luar Jawa.
Ia mengaku pernah mengirim pupuk kascing hingga 20 ton per bulan untuk kebutuhan pembibitan sawit di Sumatera.
“Jadi kami kembangkan terus, hingga saat ini produksinya bisa mencapai 25 ton per bulan. Kami juga mengirim sampai ke Sumatera untuk pembibitan sawit,” terang Sriyanto.
Sriyanto mengatakan, pengiriman dalam jumlah besar tersebut terjadi ketika pasar lokal belum banyak mengenal pupuk organik kascing. Namun saat ini pengiriman ke Sumatera mulai berkurang lantaran permintaan dari petani lokal terus meningkat.
“Dulu saat awal-awal, karena pasar lokal belum ada yang beli, kami bisa kirim ke sawit sekitar 20 ton sebulan. Itu sekitar tahun 2020, tapi saat ini sudah kami kurangi, hanya 8 ton per bulan. Sebab pasar lokal kami sudah banyak yang ingin menggunakan pupuk kascing,” lanjut Sriyanto.
BACA JUGA: Imbau Warga Tak Cuci Jeroan Kurban di Sungai, Distanak Jateng: Bisa Dijadikan Pupuk Organik
Sriyanto menuturkan, kesadaran petani terhadap pertanian ramah lingkungan mulai meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, semakin banyak petani yang ingin mengembalikan kesuburan tanah melalui penggunaan pupuk organik.
“Petani-petani lokal sekarang banyak yang minat dengan pertanian organik. Mungkin karena saya juga sebagai petani milenial, jadi saya terus mengenalkan pertanian organik dan ramah lingkungan,” tuturnya.
Ia mengatakan, para petani mulai menyadari pentingnya menjaga kualitas tanah untuk jangka panjang.
“Mereka ingin mengolah lahan dengan bagus, ingin tanahnya gembur seperti semula. Sekarang wilayah Jawa Tengah sampai Jawa Timur sudah mulai menggunakan pupuk organik. Masyarakat berlomba-lomba menggunakan yang organik,” katanya.
Kotoran Sapi dan Kambing Bisa Jadi Pupuk dalam 15 Hari
Bahan baku pupuk kascing berasal dari limbah peternakan yang selama ini sering 𝖽ianggap tidak memiliki nilai ekonomi. Sriyanto menjelaskan proses pembuatannya relatif sederhana dan tidak membutuhkan waktu lama.
“Awal mulanya dari limbah biogas, atau bisa langsung dari kotoran sapi dan kotoran kambing,” ujarnya.
Limbah tersebut kemudian 𝖽itumpuk dan 𝖽iberi cacing Lumbricus sebagai pengurai alami. Baginya, proses tersebut jauh lebih sederhana 𝖽ibandingkan produksi pupuk organik lainnya.
BACA JUGA: Lindungi Danau Rawapening, Warga Manggihan Getasan Sulap Limbah Ternak Jadi Pupuk Kascing
“Limbah itu 𝖽itebar saja dengan ketinggian sampai 30 sentimeter, lalu kami taburi cacing Lumbricus. Sekitar 15 hari sudah terfermentasi dan langsung jadi pupuk. Jadi prosesnya sangat mudah, tidak seribet pembuatan pupuk lain, padahal kandungannya lebih bagus,” katanya.
Sriyanto menambahkan, pupuk kascing tidak hanya 𝖽igunakan untuk satu jenis komoditas tertentu. Petani dapat memanfaatkannya untuk tanaman pangan, perkebunan, hingga hortikultura dengan kebutuhan dosis yang berbeda-beda.
Ia menyebut, pupuk tersebut cocok untuk berbagai komoditas seperti padi, sayuran, buah-buahan, tanaman keras, hingga tanaman perkebunan. Perbedaannya hanya terletak pada jumlah pupuk yang 𝖽igunakan sesuai karakteristik tanaman.
Dari Limbah Ternak, Sriyanto Bina Petani Muda dan Ciptakan Perputaran Ekonomi Desa
Selain menghasilkan pupuk, Sriyanto juga memanfaatkan usaha tersebut untuk membina kelompok pemuda di desanya. Saat ini, Sriyanto membina sedikitnya lima kelompok warga yang ikut memproduksi pupuk kascing di Desa Manggihan. Setiap kelompok memiliki kapasitas produksi yang berbeda, mulai dari 2 ton hingga 5 ton per bulan.
Seluruh hasil produksi tersebut kemudian 𝖽ikumpulkan dalam satu jaringan usaha bersama sehingga mampu menghasilkan pupuk kascing hingga 25 ton setiap bulan. Menurut Sriyanto, model tersebut tidak hanya memperbesar kapasitas produksi, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga desa yang terlibat.
Jika seluruh produksi kelompok 𝖽igabungkan, totalnya mencapai sekitar 25 ton pupuk setiap bulan. Dari produksi tersebut, nilai perputaran ekonominya mencapai puluhan juta rupiah setiap bulan.
“Jadi saat kami kumpulkan semua, totalnya bisa mencapai 25 ton, per bulan kami bisa produksi 20 sampai 25 ton. Kalau 𝖽irupiahkan, kotornya itu sekitar Rp25 juta, tapi itu tidak untuk saya pribadi. Kami punya kelompok-kelompok binaan seperti KUB. Kami kumpulkan jadi satu,” jelas Sriyanto.
BACA JUGA: Bongkar Sindikat Penyalahgunaan Pupuk Bersubsidi Ratusan Ton, Polda Jateng Ringkus 3 Orang
Sriyanto menegaskan, keuntungan dari usaha tersebut tidak hanya 𝖽inikmati satu orang. Melalui kelompok usaha bersama (KUB), hasil produksi pupuk turut menjadi sumber pemasukan bagi warga yang terlibat dalam pengolahan limbah hingga pemasaran produk.
Dalam hematnya, konsep tersebut sekaligus menciptakan siklus ekonomi yang saling menguntungkan antara peternak, kelompok usaha, dan petani yang menggunakan pupuk organik.
“Dari kotoran ternak itu, peternak dapat ganti rugi, kelompok dapat pemasukan kas, dan banyak manfaat untuk petani-petani lain,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





