SEMARANG, beritajateng.tv – Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Roy Hardi Siahaan, angkat bicara ihwal pencabutan rekomendasi izin penyelenggaraan konser penyanyi tenor asal Italia, Andrea Bocelli, di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, pada 31 Oktober 2026 mendatang.
Roy menegaskan, Polda Jateng tidak pernah membatalkan rekomendasi penyelenggaraan konser tersebut. Ia mengungkap, kepolisian di tingkat daerah hanya memberi penilaian dan rekomendasi yang nantinya ԁiteruskan ke tingkat lebih tinggi.
“Kami tidak pernah membatalkan itu,” ujar Roy saat beritajateng.tv jumpai di Kantor DPRD Jawa Tengah, Kota Semarang, Kamis, 15 Oktober 2026 sore.
Roy menjelaskan, proses rekomendasi penyelenggaraan kegiatan ԁimulai dari tingkat daerah, yakni Kabupaten Magelang, kemudian ԁiteruskan ke Polda Jateng hingga Mabes Polri.
Pihaknya menyebut kewenangan penerbitan izin berada di Badan Intelijen Keamanan (BIK) Mabes Polri. Sehingga, ia perlu mengecek lebih lanjut status perizinan konser Andrea Bocelli tersebut.
“Nanti akan saya cek di Mabes Polri. Karena nanti yang mengeluarkan itu ada dari BIK,” imbuh Roy.
BACA JUGA: Ternyata Konser JKT48 di Semarang Tidak Kantongi Izin, Ini Kata Polrestabes Semarang
Kewenangan Polda Jateng Hanya Beri Rekomendasi
Roy menegaskan, kewenangan Polda Jateng dalam proses tersebut sebatas memberi penilaian mengenai kelayakan penyelenggaraan kegiatan.
“Izin itu dari BIK, kami hanya sebatas merekomendasikan, apakah layak atau tidak layak. Nah, nanti kami cek di Magelang,” ungkap Roy.
Saat ԁitanya apakah konser masih dapat berlangsung sesuai jadwal, Roy tak memberikan kepastian mengenai status akhir perizinan. Ia menyebut proses perizinan tetap berada pada kewenangan instansi yang menerbitkannya.
“Izinnya tetap dari sana [BIK Mabes Polri]. Segala sesuatu proses itu ԁilakukan,” katanya.
BACA JUGA: Konser JKT48 di Mal Tentrem Over Kapasitas? Polisi Amankan Rekaman CCTV
Roy Akui Belum Tahu Penolakan dari FPI
Di sisi lain, Roy mengaku belum menerima informasi mengenai penolakan konser Andrea Bocelli oleh Front Persaudaraan Islam, yang sebelumnya bernama Front Pembela Islam atau FPI.





