“Kami berharap materi yang ada dapat menambah kompetensi dan pengetahuan para relawan. Sehingga implementasi dalam kegiatan di Rumah Sehat maupun berbagai kegiatan kelompok SAPA dan LSAPA di Kelurahan Tanjungmas,” ujarnya.
Pertamina sebelumnya juga menjalankan program pemberdayaan masyarakat Lawang Cemoro – Pintu Harapan Masyarakat Semarang Utara di Tanjungmas.
Program tersebut menyentuh sejumlah persoalan warga, mulai dari pendampingan korban KDRT, konseling, edukasi, pemberian makanan tambahan, hingga pengembangan green house dan Sistem Filterisasi Air Ramah Lingkungan (SITIRTA).
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang, Pranyoto menegaskan bahwa perlindungan perempuan dan anak tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah.
“Perlindungan perempuan dan anak tidak bisa kita kerjakan sendiri. Perlu kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, media, dan berbagai elemen lainnya agar tercipta ruang yang aman bagi perempuan dan anak,” ujarnya.
Dalam skema RBI, Relawan SAPA Tanjungmas harapannya menjadi penghubung antara persoalan warga dan sumber daya yang tersedia. Mereka juga di dorong memperkuat jejaring masyarakat agar penanganan persoalan perempuan dan anak tidak berjalan sendiri-sendiri.
Workshop tersebut tidak hanya berisi pemaparan materi. Peserta juga mengikuti diskusi kelompok untuk mengidentifikasi kondisi, potensi, dan persoalan yang masyarakat Kelurahan Tanjungmas hadapi.
Dari proses itu, relawan harus menyusun rencana aksi yang sesuai dengan kebutuhan warga. Pemetaan tersebut juga harapannya memperjelas kontribusi Relawan SAPA terhadap indikator RBI. (*)





