Jateng

Tegaskan Penyikapan LGBT Lewat Pendekatan Humanis, LDII Jateng: Kekerasan Bertentangan dengan Nilai Agama

×

Tegaskan Penyikapan LGBT Lewat Pendekatan Humanis, LDII Jateng: Kekerasan Bertentangan dengan Nilai Agama

Sebarkan artikel ini
LDII LGBT
Ketua DPW LDII Jawa Tengah, Singgih Tri Sulistiyono, saat menanggapi tentang fenomena LGBT. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Jawa Tengah menegaskan bahwa penyikapan terhadap fenomena LGBT, termasuk menyusul viralnya dugaan aksi persekusi terhadap kelompok LGBT di Bogor, harus ԁilakukan dengan pendekatan yang humanis dan mengedepankan pendidikan, bukan kekerasan.

Menanggapi aksi dugaan persekusi terhadap kelompok LGBT yang terjadi di Bogor dan menjadi perbincangan luas di media sosial, Ketua DPW LDII Jawa Tengah, Singgih Tri Sulistiyono, menilai tindakan kekerasan bukanlah cara yang tepat dalam menyikapi persoalan tersebut.

Singgih mengatakan sebagai lembaga keagamaan, LDII memilih melakukan pembinaan melalui pendidikan agama, sosialisasi, dan pemberian teladan kepada masyarakat.

Menurutnya, LDII lebih mengedepankan pendekatan persuasif melalui pendidikan dan pembinaan agar masyarakat memahami serta mengamalkan nilai-nilai agama.

“Kalau dari kami lebih melakukan pendekatan yang soft, pendekatan yang humanis. Karena kami sebagai lembaga agama, intinya melalui cara-cara pendidikan, juga memberikan contoh yang baik di dalam kehidupan masyarakat,” ujar Singgih saat ԁitemui belum lama ini.

Ia berharap melalui pembinaan tersebut, warga dapat menjadikan nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari sehingga mampu menjadi teladan di tengah masyarakat.

“Harapannya, insyaallah tidak ada LGBT di kalangan warga LDII dan bisa memberikan contoh yang baik. Jadi kami melakukan sosialisasi secara humanis dan tidak menggunakan kekerasan,” katanya.

BACA JUGA: Perpres LGBT sebagai Ancaman Nonmiliter Dinilai Picu Diskriminasi Kelompok Minoritas

Singgih menegaskan bahwa tindakan kekerasan bertentangan dengan ajaran agama yang mengedepankan berbagai nilai kehidupan.

“Karena kekerasan itu juga bertentangan dengan nilai-nilai agama. Sisi agama itu multidimensi,” tegasnya.

Selain menyoroti fenomena LGBT, Singgih menilai tantangan yang lebih mendasar bagi masyarakat saat ini adalah belum optimalnya pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, persoalan terbesar bukan sekadar perilaku yang ԁinilai menyimpang, melainkan ketika ilmu agama yang telah ԁipelajari dan ԁiinternalisasikan tidak ԁiwujudkan dalam tindakan nyata.