Kesehatan

Tembus 240 Kasus Kota Semarang Tertinggi HIV di Jateng, Separuh Pasien dari Luar Kota

×

Tembus 240 Kasus Kota Semarang Tertinggi HIV di Jateng, Separuh Pasien dari Luar Kota

Sebarkan artikel ini
Kadinkes Semarang Buka Suara Soal PHK Sepihak Sopir Ambulans, Klaim Tak Ada Maladministrasi
Kepala Dinkes Kota Semarang, M. Abdul Hakam. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kota Semarang menduduki peringkat pertama dengan jumlah temuan kasus HIV/AIDS tertinggi di wilayah Jawa Tengah. Hingga Mei 2026, Dinas Kesehatan Kota Semarang mencatat temuan 240 kasus HIV baru.

Tingginya angka ini lantaran masifnya perluasan skrining dan pelacakan aktif (active case finding) oleh tenaga kesehatan.

Menariknya, hampir separuh pasien yang menjalani pemeriksaan dan pengobatan berasal dari luar Kota Semarang.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam menyebut, sekitar 50 persen dari total kasus berasal dari luar kota Semarang. Mereka memanfaatkan layanan pemeriksaan dan pengobatan yang tersedia di ibu kota provinsi Jawa Tengah.

BACA JUGA: Kasus Baru HIV di Kota Semarang Turun Signifikan Selama 2025 

Untuk memperluas jangkauan layanan, Dinas Kesehatan menjalankan program LIDYA DIMARI atau layanan tes HIV dan layanan ARV di malam hari.

Sejumlah Puskesmas seperti Poncol, Pandanaran, Srondol, dan Sekaran beroperasi hingga malam untuk memudahkan akses pemeriksaan.

Meski angka tersebut terlihat tinggi, pihaknya menegaskan bahwa peningkatan temuan kasus tidak serta-merta menunjukkan lonjakan penularan HIV.

Sebaliknya, kondisi itu mencerminkan semakin luasnya akses layanan pemeriksaan dan keberhasilan tenaga kesehatan dalam menemukan kasus sejak dini.

“Kami sekarang tidak hanya menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan. Tim kesehatan aktif melakukan penjangkauan ke berbagai kelompok berisiko dan lokasi yang menjadi fokus pencegahan HIV. Karena itu, semakin banyak kasus yang berhasil Dinas Kesehatan temukan pada tahap awal,” kata Hakam.

Menurutnya, hampir separuh pasien yang menjalani pemeriksaan maupun pengobatan HIV di Kota Semarang berasal dari luar daerah.

Mereka memilih mengakses layanan kesehatan di Semarang karena lebih mudah jangkaunnya dan memberikan kenyamanan bagi pasien.

“Banyak masyarakat dari luar Kota Semarang yang memanfaatkan layanan skrining maupun pengobatan di sini. Selain karena aksesnya mudah, beberapa daerah juga mengalami keterbatasan layanan tertentu, termasuk ketersediaan obat antiretroviral atau ARV,” ujarnya.

Program LIDYA DIMARI