Jateng

Tradisi Nyadran Gunungpati: Sedekah 48 Kambing, Doa Leluhur, dan Pendidikan Toleransi Sejak Dini

×

Tradisi Nyadran Gunungpati: Sedekah 48 Kambing, Doa Leluhur, dan Pendidikan Toleransi Sejak Dini

Sebarkan artikel ini
Warga saat memasak kambing dalam tradisi Nyadran
Warga saat memasak kambing dalam tradisi Nyadran di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sentono, Kelurahan Ngijo, Kecamatan Gunungpati. Kamis, 22 Januari 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Tradisi Nyadran atau Sadranan menjadi salah satu warisan budaya Jawa yang masih lestari hingga kini, khususnya di Jawa Tengah.

Momentum ini biasanya berlangsung pada bulan Ruwah, atau dalam kalender Islam bertepatan dengan bulan Sya’ban, yang oleh masyarakat Jawa termaknai sebagai waktu ngrumat arwah mendoakan para leluhur, orang tua, dan tokoh-tokoh yang dianggap berjasa.

Namun, Sadranan di Dukuh Jetis, Kelurahan Ngijo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, memiliki keunikan tersendiri. Tidak hanya diisi doa bersama di makam petilasan Kiai Ashari atau Kiai Guru, tradisi ini juga dirangkai dengan penyembelihan puluhan kambing yang dagingnya langsung diolah dan dibagikan kepada para peziarah, menyerupai semangat berbagi dalam ibadah kurban Idul Adha.

Berlangsung pada Kamis Wage, Ikuti Jejak Leluhur

Tokoh Agama masyarakat Ngijo, Ahmad Yasa, menjelaskan bahwa pelaksanaan Nyadran sejatinya berlangsung pada bulan Rajab. Namun karena tidak ada penemuan hari Kamis Wage di bulan tersebut, pelaksanaan teralihkan ke bulan Sya’ban.

“Pelaksanaan nyadran haul seharusnya di bulan Rajab. Karena di bulan Rajab tidak ada Kamis Wage, maka di jatuhkan di bulan Sya’ban. Kita mengikuti leluhur, karena sejak dulu berlangsung pada Kamis Wage,” ujarnya saat beritajateng.tv temui di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sentono, Kelurahan Ngijo, Kecamatan Gunungpati pada Kamis, 22 Januari 2026.

Tahun ini, antusiasme warga terlihat dari jumlah hewan sedekah yang disembelih. Sebanyak 48 ekor kambing berasal dari sedekah warga, baik dari wilayah Gunungpati maupun dari luar daerah.

Sedekah Hewan, Tradisi Turun-Temurun

Menurut Ahmad Yasa, penyembelihan kambing di lokasi makam bukanlah hal baru. Tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman para sesepuh sebagai bentuk sedekah dan tawasul, dengan harapan mendapatkan keberkahan dan kelimpahan rezeki.

“Dari dulu para orang tua kita, kalau haul itu ada yang bersedekah hewan. Dipotong di sini, dimakan dan dibagikan di sini. Akhirnya turun-temurun menjadi kegiatan rutin,” jelasnya.

Daging kambing yang telah dimasak kemudian dibagikan kepada para peziarah untuk dibawa pulang, memperkuat nilai kebersamaan dan berbagi dalam tradisi Sadranan.

Gotong Royong dan Persatuan Warga

Kegiatan Nyadran di Kelurahan Ngijo juga menjadi simbol kuatnya gotong royong masyarakat. Kegiatan sadranan ini berlangsung di tiga makam, yakni Makam Segebuk, Makam Setono, dan Makam Mendak, yang masing-masing memiliki tokoh leluhur yang masyarakat hormati.

“Nilai kegotongroyongan ini menjadikan persatuan dan ukhuwah antar manusia. Sadranan itu didikan, pengingat bahwa nantinya kita juga akan kembali seperti para leluhur,” tutur Ahmad Yasak.

Ia menambahkan, makna Sadranan bukan sekadar ritual, tetapi juga filosofi hidup.

“Sadranan itu dari kata sodrun, yang berarti dada. Harus di masukkan ke dalam hati, agar kita kelak juga mendapat doa dari anak cucu,” imbuhnya.

Media Pendidikan Budaya dan Toleransi

Tradisi Nyadran di Gunungpati juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi budaya bagi generasi muda. Guru SD Negeri Ngijo 01 Semarang, Khalida Suryaning Putri turut hadir bersama 168 siswa untuk mengikuti prosesi Nyadran.

“Ini dalam rangka nguri-nguri budaya Sadranan. Setiap tahun kami selalu ikut, karena ini tradisi yang harus di kenalkan ke anak-anak,” ujarnya.

Ia menilai, pengenalan tradisi lokal sangat penting, tidak hanya dari sisi religius, tetapi juga sosial dan toleransi. Menariknya, kegiatan ini juga terikuti siswa non-Muslim dengan izin orang tua.

“Tidak hanya siswa Muslim, tapi juga ada siswa Kristen yang ikut. Ini bentuk pengenalan toleransi agama sejak dini,” tambah Durratus Sa’diyah, Guru kelas 5.

Warga Ngijo dan sekitarnya tampak larut dalam suasana kebersamaan. Masing-masing warga membawa makanan untuk kemudian mereka bagikan kembali, mempertegas nilai saling berbagi tanpa memandang latar belakang.

Nyadran bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ruang pertemuan antara spiritualitas, budaya, dan pendidikan sosial. Dari doa untuk leluhur, sedekah puluhan kambing, hingga keterlibatan anak-anak lintas agama, tradisi ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih relevan dan hidup di tengah masyarakat modern.

Di tengah arus zaman, Sadranan di Ngijo Gunungpati menunjukkan bahwa menjaga tradisi bukan berarti mundur ke masa lalu, melainkan merawat nilai-nilai kemanusiaan untuk masa depan. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp