DEMAK, beritajateng.tv – Tradisi Iring-iringan Tumpeng Sembilan (Tumpeng Songo) dan sangang puluh gunungan (sembilan puluh) gunungan yang berisikan hasil bumi berlangsung sangat meriah di sepanjang jalan Demak. Hal tersebut lantaran ribuan warga masyarakat di berbagai penjuru kota wali ini berkumpul untuk menyaksikan tradisi yang berlangsung setahun sekali ini.
Tradisi ini biasanya berlangsung di malam takbir di hari raya Idul Adha. Selain itu, ada pawai taaruf yang diiringi pasukan banser, barisan santri dan barisan walisongo, Minggu (16/6/24) malam.
Tahun ini, berbeda dengan tahun tahun sebelumnya. Hal tersebut karena tumpeng yang berjumlah sembilan (9) ini beriringan dengan gunungan hasil bumi yang berjumlah 90 gunungan.
BACA JUGA: Tradisi Sedekah Laut Nelayan Tambaklorok, Larung Sesaji Kepala Kerbau ke Tengah Laut
Tumpeng Songo, puncak perayaan besar
Menurut Bupati Demak, Eistianah, menyampaikan bahwa puncak perayaan Grebeg Besar Kabupaten Demak tahun ini merupakan acara yang istimewa.
“Alhamdulillah, tradisi ini berlangsung secara khidmat dan meriah. Sebuah tradisi yang sudah mengakar dan membudaya tentang sejarah Kabupaten Demak. Tradisi ini juga sebagai wujud syukur atas nikmat Allah serta sebagai penghormatan kepada leluhur dan para ulama yang telah berjasa dalam penyebaran agama Islam di Tanah Jawa,” kata Eisti.
Sebelum masyarakat mendapatkan tumpeng songo, terlebih dahulu berlangsung pengajian Idul Adha di masjid Agung Demak yang merupakan maha karya sembilan wali.
Acara tradisi iringan tumpeng dan pengajian dihadiri Bupati Estianah dan Wakil bupati Demak, jajaran forkopimda dan pimpinan OPD, Ulama dan menghadirkan mubaligh KH. Amin Budi Harjono pengasuh ponpes Al Ikhlas Semarang.
Tumpeng songo bermaksud kegiatan Grebeg Besar pada zaman para wali yang berjumlah sembilan (Wali Songo) mendatangkan keramaian masyarakat banyak sebagai syiar Islam.
Masyarakat memercayai kegiatan tumpeng songo ini bertujuan untuk mendapatkan keberkahan atas seizin Allah. Setelah prosesi doa, tumpeng tersebut selalu jadi rebutan sebagai simbol untuk meraih keberhasilan.
Menghindari berebut hasil bumi, panitia akan membagikannya kepada masyarakat yang ada di sekitar lokasi dalam bentuk kemasan plastik (*)
Editor: Andi Naga Wulan.





