Jateng

Meriahnya Tradisi Bagi-bagi Ketupat Jembut di Pedurungan Semarang

×

Meriahnya Tradisi Bagi-bagi Ketupat Jembut di Pedurungan Semarang

Sebarkan artikel ini
Dua anak menunjukkan "kupat jembut" dalam tradisi Syawalan yang digelar di Jalan Tlogomulyo. (Adher/beritajateng.tv)
Dua anak menunjukkan "kupat jembut" dalam tradisi Syawalan yang digelar di Jalan Tlogomulyo. (Adher/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Ratusan warga di kawasan Pedurungan, Kota Semarang, tampak berhamburan keluar rumah untuk meramaikan pembagian ketupat jembut dalam tradisi Syawalan.

Adapun kegiatan ini yang berlangsung di Kampung Jaten Cilik dan Pedurungan Tengah 2 Semarang.

Tradisi unik ini berlangsung meriah usai salat Subuh. Suara petasan yang tersusul bunyi tiang listrik dipukul menjadi tanda dimulainya pembagian kupat kepada warga, khususnya anak-anak.

Tak butuh waktu lama, ratusan anak langsung berlarian menuju sumber suara. Mereka berebut kupat yang warga bagikan, yang ternyata berisi uang pecahan Rp2.000 di dalamnya.

Aksi saling berebut ini terjadi setiap kali ada tanda bunyi tiang listrik yang warga tabuh, khususnya yang hendak membagikan kupat. Bahkan, tidak sedikit anak-anak yang terjatuh karena terlalu antusias mengejar kupat tersebut.

BACA JUGA: Libur Syawalan? Cek Dulu Cuaca Tempat Wisata di Jateng Hari Ini 28 Maret 2026

Tradisi ini dikenal dengan nama “Bancaan Kupat Syawalan”, yakni perayaan Lebaran Ketupat yang berlangsung pada hari keenam setelah Idulfitri. Kegiatan ini telah berlangsung turun-temurun selama lebih dari 70 tahun di kawasan Taman Tlogomulyo.

Menurut Imam Masjid Rudlotul Muttaqin, Munawir, tradisi ini awalnya hanya berupa kegiatan sederhana sebelum berkembang menjadi seperti sekarang.

“Bermulai dari pembagian sederhana. Lalu berubah-ubah. Dulu jaman G30S PKI, di bagiinnya mercon,” katanya.

Ia juga menjelaskan, tradisi ini bermula sejak masa perjuangan dan bertujuan menghibur anak-anak di lingkungan kampung.

Memasuki era 1980-an hingga 1990-an, ketupat mulai terisi uang sebagai bentuk sedekah kepada anak-anak.

Yang membuat tradisi ini semakin unik adalah bentuk kupatnya. Berbeda dari ketupat pada umumnya, kupat dalam tradisi ini di belah dua dan di isi sayuran seperti gudangan di bagian tengahnya.

BACA JUGA: Sidak Pasar Tradisional, Bupati Semarang Temukan Kenaikan Harga Sejumlah Bapokting

Karena bentuk dan rasanya yang khas, warga setempat menyebutnya dengan nama “kupat jembut”.

Tradisi Bancaan Kupat Syawalan ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mempererat kebersamaan warga sekaligus melestarikan budaya lokal yang telah terwariskan dari generasi ke generasi. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp