Jateng

Trauma Longsor Besar di Desa Ngrawan, Warga Tolak Eksplorasi Geothermal Gunung Telomoyo

×

Trauma Longsor Besar di Desa Ngrawan, Warga Tolak Eksplorasi Geothermal Gunung Telomoyo

Sebarkan artikel ini
Anggota Karang Taruna Telomoyo, Dwi Purwoko,
Anggota Karang Taruna Telomoyo, Dwi Purwoko, saat beritajateng.tv jumpai di Kota Semarang, belum lama ini. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

“Terkait dampak seperti longsor tadi, apakah kita akan mengalami hal yang sama? Apalagi memori kolektif si mbah-mbah kami terkait longsor masih menyisakan trauma,” katanya.

Telomoyo Merasa Tak Punya “Daya Tawar” Sejarah seperti Gedong Songo

Lebih jauh, Dwi merasa pergerakan warga di Telomoyo belum mendapat atensi sebesar di Gunung Ungaran. Dia menduga, keberadaan situs cagar budaya Candi Gedong Songo di Ungaran memberikan posisi tawar politik dan budaya yang jauh lebih kuat bagi warganya.

“Teman-teman di Ungaran dari semalam sampai tadi sudah mulai menolak. Kadang kami merasa, apakah Ungaran ini sangat ‘seksi’ untuk jadi pembelaan karena ada Candi Gedong Songo? Sementara kami di Telomoyo punya apa?” kata Dwi.

Padahal, secara peninggalan sejarah, Dwi mengungkap Telomoyo juga menyimpan nilai historis yang tak kalah penting.

BACA JUGA: Tolak Proyek Geothermal Gunung Ungaran, Aliansi Masyarakat; Alternatif Energi Ramah Lingkungan Masih Banyak

Hal itu dia buktikan dengan temuan Prasasti Ngrawan berangka tahun 1373 Saka (1450 Masehi). Selain itu keberadaan naskah kuno berupa lima lontar yang terhubung dengan peradaban Merapi-Merbabu.

“Apakah karena Ungaran memiliki situs Candi Gedong Songo, daerahnya menjadi lebih punya daya tarik. Sementara Telomoyo dianggap tidak memiliki nilai tawar? Sehingga seolah-olah desa-desa di sini dianggap akan oke-oke saja jadi daerah eksplorasi,” katanya.

Khawwatir Masifnya Wisata di Telomoyo Buat Ancaman Longsor Terlupakan

Di sisi lain, pesatnya perkembangan pariwisata di Gunung Telomoyo menjadi pisau bermata dua. Kemudahan akses kendaraan bermotor hingga ke puncak gunung membuat kawasan ini tak pernah sepi dari incaran pelancong.

“Gunung Telomoyo saat ini kan sangat ramah, mudah menjadi pendakian, bahkan bisa pakai motor. Dari segi wisata saja eksploitasinya sudah masif. Di atas ada coffee shop, dan beberapa kali Telomoyo harus tutup karena kepenuhan,” kata Dwi.

Bahkan saat musim liburan tiba, kawasan puncak bisa sesak oleh ribuan wisatawan. Pengelola terpaksa memberlakukan sistem buka-tutup akibat membeludaknya volume kendaraan.