Jateng

Trauma Longsor Besar di Desa Ngrawan, Warga Tolak Eksplorasi Geothermal Gunung Telomoyo

×

Trauma Longsor Besar di Desa Ngrawan, Warga Tolak Eksplorasi Geothermal Gunung Telomoyo

Sebarkan artikel ini
Anggota Karang Taruna Telomoyo, Dwi Purwoko,
Anggota Karang Taruna Telomoyo, Dwi Purwoko, saat beritajateng.tv jumpai di Kota Semarang, belum lama ini. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

“Ceritanya dulu sudah diajak pembahasan bersama PT PLN dan pemerintah daerah. Katanya, targetnya 53 megawatt dengan kebutuhan lahan lebih dari 10 hektare. Untuk memaksimalkan 53 MW ini, harus ada 29 titik sumur,” katanya.

BACA JUGA: Rencana Pemerintah Ngebor 19 Titik Geothermal di Jawa Tengah Terungkap

Melihat target kapasitas dan jumlah sumur, Dwi menilai jangkauan proyek ini sangat luas hingga menyentuh kawasan Candi Umbul di Magelang.

Sayangnya, kata dia, proses dialog antara pemerintah dan desa terkesan buntu ketika menyinggung soal analisis dampak lingkungan.

“Waktu pertemuan tersebut, pak kepala desa ini sempat mempertanyakan, ‘Lalu dampak air ini akan menjadi tanggung jawab siapa?’ Ternyata, setelah mempertanyakan hal itu, di rapat-rapat leboh lanjut dia sudah tidak mereka ajak rapat lagi,” tutur Dwi.

Pertanyakan Transparansi Proyek Geothermal

Kini, isu geotermal di Telomoyo mencuat kembali dengan memproyeksikan Desa Wirogomo dan Kemambang sebagai titik eksplorasi. Kondisi ini membuat Dwi mempertanyakan sejauh mana transparansi dan sosialisasi pemerintah kepada masyarakat setempat.

“Kami yang bukan berada persis di wilayah eksplorasi pun mempertanyakan, bagaimana kabar teman-teman di sana? Apakah kami yang belum terhubung komunikasinya, atau memang proyek itu diterima saja oleh mereka?” katanya.

Tak cuma itu, Dwi turut menyoroti kabar penundaan sementara proyek geotermal di Gunung Ungaran akibat masifnya penolakan warga.

BACA JUGA: Soroti Proyek Geothermal, Pakar Lingkungan SCU Beberkan Dampak Lingkungan di Permukiman Padat Penduduk

Dia menyayangkan adanya rumor bahwa Gunung Telomoyo justru akan menjadi wilayah acuan pengganti eksplorasi panas bumi.

“Apalagi belum lama ini, setelah ramai penolakan di Ungaran dan Telomoyo, pihak pemerintah daerah sempat berkumpul. Terus katanya proyek geotermal Ungaran ada penundan, lalu Telomoyo yang akan jadi bahan acuan. Nah, kenapa kami yang seolah jadi kelinci percobaan?” tanya Dwi.

Merespons hal tersebut, Dwi mengungkap masyarakat Telomoyo mulai mengkonsolidasikan diri. Meski desanya tidak berada persis di zona eksplorasi, Dwi merasa wilayahnya tetap punya risiko bencana.