Jateng

Tren Penularan HIV di Jateng Bergeser ke Kelompok Laki Suka Lelaki, Semarang hingga Pati Catat Kasus Tinggi

×

Tren Penularan HIV di Jateng Bergeser ke Kelompok Laki Suka Lelaki, Semarang hingga Pati Catat Kasus Tinggi

Sebarkan artikel ini
Dokter Puskesmas | Kasus HIV
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab, memberikan keterangan kepada awak media di kompleks Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, Jumat, 26 Juni 2026. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

Menurut keterangannya, perubahan tren penularan juga berdampak pada profil penderita HIV di Jawa Tengah. Jika sebelumnya banyak kasus ԁitemukan pada ibu rumah tangga akibat tertular dari pasangan, kini mayoritas kasus justru ԁitemukan pada laki-laki.

“Saat ini trennya ke sana, tren laki suka lelaki. Tadinya kan penularan dari hubungan laki-laki perempuan. Sekarang berubah. Trennya berubah,” katanya.

Mayoritas Menyerang Usia Produktif

Dinkes Jawa Tengah juga mencatat sebagian besar kasus HIV saat ini terjadi pada kelompok usia produktif. Zulfachmi menyebut kelompok usia 20 hingga 30 tahun menjadi kelompok yang paling banyak terpapar, meski kasus juga masih ԁitemukan pada usia yang lebih tua.

Saat ԁitanya lebih lanjut mengenai rentang usia tersebut, Zulfachmi menjelaskan puncak kasus berada pada usia sekitar 40 tahun. “20-an, 30-an tertinggi. Peak-nya 40,” katanya.

BACA JUGA: Podcast Fenomena Boti Marak, Bikin Angka HIV Kota Semarang Naik

Ia menilai tingginya penularan pada kelompok LSL kemungkinan berkaitan dengan frekuensi kontak seksual yang lebih tinggi sehingga meningkatkan risiko penularan virus.

“Sebenarnya prinsipnya sama saja. Cuma mungkin biasanya menyerang usia muda. Jadi frekuensi kontaknya mungkin lebih sering sehingga penularan penyakit bisa lebih mudah,” jelasnya.

Pasien HIV Harus Minum Obat Seumur Hidup

Lebih lanjut, Zulfachmi mengatakan hingga kini belum ada obat yang dapat menyembuhkan HIV secara total.

Oleh karena itu, pasien harus menjalani terapi antiretroviral (ARV) secara rutin seumur hidup untuk menekan jumlah virus di dalam tubuh.

“Prinsip pengobatan sama saja. Kita berikan antivirus, kita kuatkan sistem imunnya, daya tahan tubuhnya kita kuatkan dan kita berikan obat antiretrovirus (ARV) seumur hidup,” ujarnya.

Ia mengungkap, terapi tersebut mampu menekan jumlah virus atau viral load hingga sangat rendah. Namun apabila pengobatan ԁihentikan, virus akan kembali berkembang biak.

“Semakin rendah semakin bagus. Kita bisa menekan pada nol. Tetapi begitu obat berhenti, dia naik lagi, replikasi muncul kembali,” tandas Zulfachmi. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi