SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah mengungkap tren penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV) di provinsi ini bergeser ke kelompok lelaki suka lelaki (LSL) dalam lima tahun terakhir. Meski demikian, Dinkes memastikan jumlah kasus HIV di Jawa Tengah justru menunjukkan tren penurunan dari tahun ke tahun.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab, mengatakan perubahan tersebut terlihat dari pola penularan yang sebelumnya ԁidominasi hubungan heteroseksual, kini bergeser ke kelompok LSL.
“Kalau kita bandingkan kasus HIV dari tahun 2024, kita bandingkan dengan 2025, sebenarnya menurun. Jumlahnya menurun sebenarnya, tetapi ada perubahan pola penularan. Yang tadinya dari seksual, berubah menjadi laki suka lelaki,” ujar Zulfachmi saat beritajateng.tv jumpai di kompleks Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jumat, 26 Juni 2026.
BACA JUGA: Kasus HIV Tinggi, DPRD Temukan Rumah Kos di Semarang Jadi Base Camp Komunitas Gay
Ia menjelaskan, pergeseran pola tersebut bukan fenomena yang baru muncul tahun ini. Menurutnya, tren penularan melalui kelompok LSL sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.
Meski pola penularan berubah, Zulfachmi menegaskan tren jumlah kasus HIV di Jawa Tengah tetap mengalami penurunan.
“Kalau jumlah sih kalau kita bandingkan data itu menurun sebenarnya dari tahun 2024 ԁibandingkan 2025, 2025 ԁibandingkan 2026, itu menurun. Trennya menurun sebetulnya, cuma pergeserannya ke pola penularannya,” jelasnya.
Semarang, Solo, Banyumas hingga Pati Catat Kasus HIV Relatif Tinggi
Zulfachmi mengatakan kasus HIV tersebar hampir di seluruh wilayah Jawa Tengah. Namun, sejumlah daerah masih mencatat angka kasus yang relatif lebih tinggi ԁibanding wilayah lainnya.
Selain Kota Semarang, Dinkes juga mencatat kasus cukup banyak di Solo, Banyumas, Kabupaten Pati hingga Brebes.
“Rata-rata merata semua. Di Pati juga tinggi, kemudian di kota-kota pasti ya, Solo, kemudian Banyumas. Tapi yang di daerah itu Pati, kemudian Brebes mungkin ada tinggi seperti itu,” ujarnya.





