“Kendaraan listrik untuk angkutan jalan raya masih sulit saya kira. Karena faktor jarak panjang, berulang kali perlu charging, nanti di mana? Kan sulit untuk saat ini,” katanya.
BACA JUGA: Siap Ikuti Kebijakan Zero ODOL 2027, Aptrindo Soroti 70 Persen Truk di Indonesia Belum Resmi Terdaftar
Kebutuhan truk logistik, kata Bambang, berbeda dengan kendaraan yang beroperasi di area pertambangan. Truk tambang umumnya bergerak pada lintasan tertentu, sedangkan truk logistik dapat menempuh perjalanan lebih dari 500 kilometer.
Dia juga menyoroti bobot baterai yang dapat mengurangi kapasitas muatan, apabila batas berat kendaraan tidak ada penyesuaian dengan karakteristik truk listrik.
“Beterainya itu berat, kalau daya muatnya truk tidak dinaikkan, habis untuk muat baterainya doang,” ucapnya.
Produsen Mulai Mengembangkan Truk Listrik dan Hybrid
General Manager Sales Lancarjaya Nusantara Enjiniring, Denny Liyadi, membenarkan jika harga truk listrik tentunya lebih mahal berbanding truk diesel.
“Kami masih development untuk listrik. Ya kalau truk, harga biasa mulai Rp700 juta sampai Rp1,6 miliar,” kata Denny.
BACA JUGA: 60 Persen Truk Indonesia Sudah Berumur Tua, Aptrindo Dorong Pemerintah dan Pengusaha Percepat Peremajaan
Meski harga bisa lebih mahal berbanding truk diesel, Denny mengatakan kepeminatan tetap ada. Meskipun angkanya masih tergolong kecil.
“Secara gambaran dari 100 buyer, 2 persen tertarik beli listrik,” katanya.
Sementara itu, Marketing MC Group Semarang, Arifin, mengatakan untuk truk tipe hybrid, harga per unit menyentuh angka sekitar Rp2 miliar. (*)
Editor: Diaz A Abidin





