SEMARANG, beritajateng.tv – Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo), Gemilang Tarigan mengatakan, harga truk listrik bisa mencapai tiga kali lipat harga truk diesel.
Hal itu, kata dia, menjadi salah satu hambatan bagi pengusaha angkutan barang untuk beralih ke kendaraan listrik. Selain itu keterbatasan fasilitas pengisian daya, dan berat baterai juga menjadi pertimbangan dalam operasional logistik jarak jauh.
Oleh karena itu, kata Gemilang, kebijakan transisi kendaraan listrik perlu beserta dukungan menyasar sektor dunia usaha angkutan barang.
“Pemerintah sekarang belum ngapa-ngapain khusus untuk truk. Kalau saya beli truk diesel sekarang, lahirlah truk yang harus disubsidi pemerintah selamanya,” katanya dalam pembukaan Aptrindo Truck Expo 2026 di Hotel Patra Semarang belum lama ini.
BACA JUGA: Kendaraan Listrik di Jawa Tengah Tembus 35 Ribu Unit, ESDM: Paling Banyak di Kota Semarang
Menurutnya, pengusaha belum memiliki kemampuan yang sama untuk membeli truk listrik. Oleh karena harga kendaraan listrik masih jauh lebih mahal dibandingkan truk konvensional.
“Kenapa tiga kali lipat lebih mahal? karena di dalamnya ada pajak dan segala macam,” ucap dia.
Dia ingin pemerintah menyiapkan insentif atau skema keringanan agar kendaraan listrik dapat dijangkau oleh perusahaan angkutan.
“Subsidi dan keringanan. Kalau sepeda motor [listrik] sekarang kan diberikan insentif pemerintah Rp7 juta sekali beli. Kalau truk, pemerintah masih tutup mata ini,” katanya.
Gemilang menilai dukungan tersebut perlu jadi pertimbangan sebagai bagian dari upaya mendorong penggunaan kendaraan yang lebih efisien dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
“Kalau enggak mau subsidi truk setiap tahun sampai seterusnya, ya harusnya dorong untuk menggunakan listrik yang murah, wajar, dan terjangkau harganya,” ucap Gemilang.
Infrastruktur Pengisian Daya jadi Tantangan
Ketua Aptrindo Jateng-DIY, Bambang Widjanarko, menyoroti keterbatasan infrastruktur pengisian daya untuk truk yang menempuh perjalanan jarak jauh.
Menurutnya, truk listrik di jalan raya masih sulit untuk direalisasikan. Sebab, angkutan logistik bisa menempuh waktu berhari-hari dalam sekali jalan.
“Kendaraan listrik untuk angkutan jalan raya masih sulit saya kira. Karena faktor jarak panjang, berulang kali perlu charging, nanti di mana? Kan sulit untuk saat ini,” katanya.
BACA JUGA: Siap Ikuti Kebijakan Zero ODOL 2027, Aptrindo Soroti 70 Persen Truk di Indonesia Belum Resmi Terdaftar
Kebutuhan truk logistik, kata Bambang, berbeda dengan kendaraan yang beroperasi di area pertambangan. Truk tambang umumnya bergerak pada lintasan tertentu, sedangkan truk logistik dapat menempuh perjalanan lebih dari 500 kilometer.
Dia juga menyoroti bobot baterai yang dapat mengurangi kapasitas muatan, apabila batas berat kendaraan tidak ada penyesuaian dengan karakteristik truk listrik.
“Beterainya itu berat, kalau daya muatnya truk tidak dinaikkan, habis untuk muat baterainya doang,” ucapnya.
Produsen Mulai Mengembangkan Truk Listrik dan Hybrid
General Manager Sales Lancarjaya Nusantara Enjiniring, Denny Liyadi, membenarkan jika harga truk listrik tentunya lebih mahal berbanding truk diesel.
“Kami masih development untuk listrik. Ya kalau truk, harga biasa mulai Rp700 juta sampai Rp1,6 miliar,” kata Denny.
BACA JUGA: 60 Persen Truk Indonesia Sudah Berumur Tua, Aptrindo Dorong Pemerintah dan Pengusaha Percepat Peremajaan
Meski harga bisa lebih mahal berbanding truk diesel, Denny mengatakan kepeminatan tetap ada. Meskipun angkanya masih tergolong kecil.
“Secara gambaran dari 100 buyer, 2 persen tertarik beli listrik,” katanya.
Sementara itu, Marketing MC Group Semarang, Arifin, mengatakan untuk truk tipe hybrid, harga per unit menyentuh angka sekitar Rp2 miliar. (*)
Editor: Diaz A Abidin





