Jateng

Umat Buddha Rayakan Waisak di Vihara Tanah Putih Semarang, Penghayatan Dhamma Sebulan Penuh

×

Umat Buddha Rayakan Waisak di Vihara Tanah Putih Semarang, Penghayatan Dhamma Sebulan Penuh

Sebarkan artikel ini
Waisak Buddha
Para Biku dan Atthasilani usai menjalani ritual Pradak Sina di Vihara Tanah Putih, Kota Semarang, Minggu, 31 Mei 2026. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

Bante Cattamano mengungkap, Trisuci Waisak merupakan peringatan terhadap tiga peristiwa agung dalam kehidupan Sang Buddha yang diyakini terjadi pada tanggal purnama yang sama.

Ketiga peristiwa tersebut meliputi kelahiran Pangeran Siddhartha Gautama, tercapainya Penerangan Sempurna oleh Petapa Gautama, serta Parinibbana atau mangkatnya Sang Buddha.

“Nah, kali ini tepat pada tanggal 15 Purnama Siddhi, kita menyongsong perayaan Tri Suci Waisak. Perayaan ini memperingati lahirnya Pangeran Siddhartha Gautama, Petapa Gautama mencapai penerangan sempurna, dan pada saat Sang Buddha mangkat atau mencapai Parinibbana,” jelas Bante Cattamano.

Dalam hematnya, ketiga peristiwa tersebut menjadi fondasi penting dalam kehidupan umat Buddha karena mengandung ajaran tentang kebijaksanaan, pengendalian diri, hingga pembebasan dari penderitaan.

BACA JUGA: Tak Sekadar Hari Raya Keagamaan, Waisak 2025 Bawa Berkah ke Sejumlah Wisata Jawa Tengah

Tradisi Memandikan Rupang Bayi Siddhartha jadi Simbol Penguatan Saddha

Selain menjadi bagian dari rangkaian puja bakti, tradisi memandikan rupang Bayi Siddhartha juga memiliki makna spiritual yang mendalam bagi umat Buddha.

Bante Cattamano mengatakan tradisi tersebut berangkat dari kisah kelahiran Pangeran Siddhartha yang dalam keyakinan umat Buddha disertai turunnya air hangat dan air dingin dari langit.

“Sesungguhnya ini juga salah satu cara untuk menguatkan keyakinan kepada Sang Buddha itu sendiri. Di mana pada saat Siddhartha lahir, itu ada turun hujan. Ada air dingin dan juga ada air hangat yang membasahi tubuh dari Bayi Siddhartha ini,” tuturnya.

Oleh karena itu, umat Buddha terus melestarikan tradisi tersebut sebagai bentuk penghormatan sekaligus sarana memperkuat Saddha atau keyakinan kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha.

“Jadi tradisi memandikan ini kita lakukan sebagai bentuk puja penghormatan sekaligus untuk menambah Saddha atau keyakinan umat Buddha itu sendiri. Tradisi ini diikuti semua umat Buddha, dan vihara-vihara lain juga mengadakan hal yang sama seperti memandikan patung Bayi Siddhartha,” katanya.

Detik-detik Waisak Berlangsung Pukul 15.44 WIB, Tokoh Lintas Agama Ikut Hadir