SEMARANG, beritajateng.tv – Pihak Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang menilai terdapat sejumlah kejanggalan dalam kematian Dwinanda Linchia Levi (35), dosen Fakultas Hukum yang ditemukan meninggal pada Senin, 17 November 2025. Hal itu diungkap anggota Tim Advokasi Badan Konsultasi dan Bantuan Hukum (BKBH) Untag Semarang, Edi Pranoto, dalam konferensi pers resmi kampus.
Edi menjelaskan, pembentukan tim advokasi ini karena kampus melihat adanya ketidakwajaran sejak informasi awal pihaknya terima. Menurutnya, peristiwa pertama kali di ketahui sekitar pukul 05.30-06.30 WIB, namun pihak fakultas sebagai institusi terdekat justru baru mendapat kabar sekitar 14.30 WIB.
“Rentang waktu yang sangat panjang hanya dari segi waktu saja sudah menunjukkan adanya kejanggalan. Itu satu poin yang harus kami kawal,” ujarnya.
Kampus Justru Dapat Informasi dari Rekan Dosen, Bukan Polisi
Edi menyebut, pihak kampus tidak menerima pemberitahuan langsung dari aparat yang menangani pemindahan jenazah maupun proses awal di TKP. Informasi yang masuk justru berasal dari jaringan rekan-rekan dosen Levi.
“Institusi yang mengetahui aktivitas almarhum adalah kampus. Tetapi kami justru mendapatkan kabar dari jaringan teman dosen, bukan dari pihak berwenang. Ini yang kemudian menjadi pertanyaan kami,” jelasnya.
BACA JUGA: Untag Semarang Tekankan Transparansi, Usut Kematian Dosen Muda Fakultas Hukum
Isu lain yang turut publik soroti adalah lamanya kampus menghubungi keluarga. Edi menegaskan bahwa pihak fakultas sebenarnya memiliki database dosen, tetapi tidak menyimpan kontak keluarga secara lengkap.
Menurutnya, Levi selama ini tinggal di Semarang seorang diri sehingga data keluarga tidak tercantum dalam dokumen kampus.
“Kami baru bisa menghubungi keluarga sekitar pukul 18.30 WIB, setelah rekan-rekan dosen mencari informasi dan menemukan kontak kakak almarhumah melalui Instagram,” jelasnya.
Tuntutan Digital Forensik: HP, Laptop, dan CCTV
Tim advokasi juga menyoroti perangkat pribadi dan rekaman CCTV yang dinilai penting untuk membuka fakta peristiwa. Pihak kampus mendorong penyidik untuk melakukan digital forensik secara menyeluruh.





