Catatan Editor

Upaya Cagub-Cawagub Jateng Berebut Suara Gen Z, Dekati Komunitas hingga Nonton Bruno Mars

×

Upaya Cagub-Cawagub Jateng Berebut Suara Gen Z, Dekati Komunitas hingga Nonton Bruno Mars

Sebarkan artikel ini
Ricky Fitriyanto
Ricky Fitriyanto (Dokumen Pribadi)

ANAK muda bakal menjadi salah satu penentu pada Pemilihan Gubernur Jawa Tengah (Pilgub Jateng). Jumlah calon pemilih berusia muda di Jawa Tengah cukup tinggi. Cagub-Cawagub Jateng yang mampu menarik anak muda bakal mendapat keuntungan elektoral.

KPU Jawa Tengah telah merilis Daftar Pemilih Tetap (DPT) di provinsi ini berdasar klasifikasi usia. Data tersebut KPU pilah dari DPT Jawa Tengah di Pemilu 2024 yang jumlah totalnya 28.289.413 orang.

Jika data tersebut dipilah, jumlah calon pemilih di Jawa Tengah terbanyak dari kelompok usia 28-43 atau generasi milenial (kelahiran 1981-1996). Jumlahnya mencapai 9.065.832 atau 32,05 persen dari pemilih. Sementara jumlah calon pemilih dari Generasi Z (kelahiran 1997-2007) mencapai 5.891.384 orang atau 20,83 persen.

BACA JUGA: Pendaftaran Cagub-Cawagub: Bambang Pacul dan Hendi Ambil Formulir? Ini Kata PDIP Jateng

Kelompok usia 59-44 alias Generasi X (kelahiran 1965-1980) berjumlah 8.017.620 atau 28,44 persen dari total pemilih. Berikutnya Baby Boomers 16,23 persen atau setara 4.612.644 pemilih, dan Pre Boomer 1,68 persen atau 478.172 pemilih.

KPU Jawa Tengah menetapkan DPT untuk Pilgub 2024 sebanyak 28.427.616 pemilih, naik 138.203 pemilih daripada DPT Pileg dan Pilpres.

Dua pasangan Cagub-Cawagub Jateng yang bertarung, Andika Perkasa-Hendrar Prihadi dan Ahmad Luthfi-Taj Yasin menghadapi tantangan tersendiri dalam menarik pemilih muda. Generasi Milenial dan Gen Z memiliki karakteristik unik dan preferensi politik berbeda dari generasi sebelumnya.

Gen Z misalnya, punya kosakata sendiri dalam berkomunikasi. Mereka sejak kecil sudah mengenal teknologi digital yang berkembang pesat. Gen Z merupakan pengguna internet yang mahir dan terbiasa dengan berbagai platform media sosial.

Mengutip data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Jawa Tengah jumlahnya 14,13 persen dari total pengguna di Indonesia. Mereka yang melek internet ini juga mengakses medsos meski sebagian besar lebih mencari konten hiburan. Gen Z kini bahkan menjadikan TikTok sebagai search engine dalam mencari informasi.

Gelar nobar hingga gandeng influencer

Dengan semua fakta tersebut, strategi yang tepat dari Cagub-Cawagub Jateng untuk menggaet suara anak muda sangat krusial. Andika Perkasa dan Ahmad Luthfi perlu beradu strategi yang inovatif untuk menjangkau dan meyakinkan pemilih muda di Jawa Tengah. Politik adalah soal persepsi. Sukses tak hanya tergantung pada popularitas, tetapi juga kemampuan menyampaikan visi misi dengan cara inovatif.

Sejumlah cara yang umum untuk menggaet pemilih muda antara lain, kampanye digital yang kreatif, menggunakan gaya komunikasi anak muda, menawarkan program yang relevan, hingga mendekati komunitas anak muda.

BACA JUGA: Profil Andika Perkasa, Mantan Panglima TNI yang Jadi Cagub Jateng Usungan PDIP

Sekitar dua minggu masa kampanye berjalan sejak 25 September 2024 lalu, beberapa cara sudah Cagub-Cawagub Jateng lakukan untuk menarik minat pemilih muda. Hendrar Prihadi misalnya rutin menggelar acara Tawa Bareng Hendi hingga Nobar laga Timnas. Berbagai kegiatan tersebut juga menjadi sarana menyerap aspirasi kalangan muda. Hendi juga sejak lama aktif di medsos dengan mengunggah konten-konten ringan bernuansa anak muda.

Ahmad Luthfi seolah tak mau kalah. Jenderal bintang tiga tersebut punya relawan Gen Z dan menggandeng influencer Dara Sarasvati untuk berkampanye. Luthfi juga berencana menerbitkan Kartu Zilenial yang nantinya bisa untuk mendapatkan potongan harga internet hingga kopi.

Lalu bagaimana caranya agar pola komunikasi Cagub-Cawagub Jateng tersebut bisa relate dengan anak muda? Jika melihat fenomena beberapa tahun belakangan, anak muda lebih suka sesuatu yang genuine, natural, dan apa adanya. Mereka tak suka dengan hal-hal yang sifatnya artifisial. Apakah ini menandakan era pencitraan politisi sudah berakhir? Mungkin saja.

Belajar dari SBY dan Bambang Pacul

Setidaknya ada dua fenomena yang menggambarkan hal tersebut. Pertama, tampilnya Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Festival Musik Pestapora. SBY tampil menjadi diri sendiri membawakan lagu milik grup band Jamrud dan Tipe-X.

Penampilannya bisa relate dengan para penonton Pestapora yang sebagian besar baru berusia belasan tahun. Mereka masih duduk di bangku SD saat SBY menjadi Presiden. Esok harinya SBY melukis bareng para penonton dipandu Vincent-Desta. Tak ada joget TikTok, tak ada sesuatu yang di create berlebihan agar bisa nyambung dengan anak muda.

Fenomena kedua adalah naiknya nama politisi senior PDIP Bambang Wuryanto atau Bambang Pacul melalui berbagai podcast. Bambang Pacul pada usia yang tak muda lagi, menyebut dirinya gaptek dan “orang goa” yang tak mengenal medsos, mendadak viral karena berbagai statementnya soal “Korea-Korea”. Pria yang kini menjabat Wakil Ketua MPR RI tersebut memberi petuah hidup dan memacu anak-anak muda dari kalangan bawah untuk “melenting” meraih cita-citanya.

BACA JUGA: Garis Besar Timses Sudah Terbentuk, Hendi Ingin Bambang Pacul jadi Ketua Tim Pemenangan

Banyak pernyataan Bambang Pacul menjadi sound TikTok. Mulai soal “Jangan Lawan Orang Baik dan Orang Cantik” hingga laki-laki tak perlu minder mengejar perempuan meski punya tampang pas-pasan.

Dalam setiap siniar dan acara Kongkow, Ketua DPD PDIP Jawa Tengah ini tampil apa adanya. Ngomong blak-blakan sehingga banyak kata yang terpaksa kena sensor, hingga cuek merokok. Genuine. Jika keviralan itu ternyata berdampak secara elektoral, itu soal lain lagi.

Artifisial gampang dibaca orang

Soal aksi para politisi yang terkesan artifisial ini juga semakin gampang dibaca orang. Sebab sudah ada beberapa politisi sebelumnya yang terlanjur lekat dengan image tertentu.

Jokowi misalnya sudah lama punya image merakyat. Label tokoh yang suka marah-marah sudah terlanjur menempel pada Ahok dan Risma.

Maka jika tiba-tiba ada politisi lain yang mengamuk menegur bawahan dalam sorotan kamera, publik akan bertanya-tanya. Begitu juga jika ada kepala daerah yang marah-marah dan menendang tembok sampai bolong karena hasil pembangunan gedung ia anggap tak sesuai spek, sebagian orang akan menganggapnya aneh.

Kembali ke tema diatas, merebut hati Milenial dan Gen Z pun sebenarnya bisa dilakukan dengan natural dan menjadi diri sendiri. Tanpa melakukan aksi yang artifisial dan dipaksakan. Menonton konser Bruno Mars dan berusaha sing a long misalnya…(*)

Ricky Fitriyanto
Pemimpin Redaksi beritajateng.tv

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp