Dugaan Penyebab Keracunan karena Keterlambatan, Tercampurnya Makanan, hingga Kombinasi Menu
Berdasarkan analisis sementara, Hanung menyebut kejadian tersebut dugaan kuat terpicu faktor pasca-produksi. Selain itu, ada indikasi pencampuran makanan yang berpotensi memengaruhi kualitas.
“Dugaan kuat akibat keterlambatan konsumsi yang melebihi batas aman. Ada indikasi pencampuran nasi goreng dengan kuah acar, serta penyimpanan ulang di pondok,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti kombinasi menu yang ternilai berpotensi memicu gangguan pencernaan.
“Kombinasi susu dan jeruk juga berpotensi menimbulkan gangguan pencernaan,” tambahnya.
Dapur MBG Disetop, Ditemukan Sejumlah Catatan Fasilitas
Lebih lanjut, Hanung menyebut operasional dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lokasi kejadian telah dihentikan sementara sejak 19 April 2026.
“(Produksi berhenti) sementara sambil menunggu hasil uji laboratorium,” ujarnya.
Dalam investigasi, pihaknya juga menemukan sejumlah catatan pada fasilitas dapur, meskipun secara umum layout telah sesuai.
“Beberapa di antaranya belum ada grease trap, kondisi air agak keruh, lantai sudah mengelupas, dan belum terdapat chef,” jelasnya.
BACA JUGA: PT Yasa Artha Trimanunggal, Pemasok Motor MBG yang Jadi Sorotan
Selain itu, terdapat pula keterbatasan fasilitas pendukung seperti ruang penyimpanan dan sistem pengolahan limbah.
“Ruang loker tidak ada pintu, ruang alat dapur belum tersedia, grease trap untuk cuci bahan baku dan ompreng belum ada, lantai kotor dan epoksi mengelupas, kamar mess masih kurang, serta pintu jalur ke toilet belum tersedia,” ungkapnya.
Hanung menegaskan, keracunan tersebut menjadi evaluasi untuk perbaikan SPPG di Jawa Tengah ke depannya.
“Perlu penguatan SOP, terutama konsumsi langsung di lokasi, evaluasi menu, serta peningkatan pengawasan distribusi dan edukasi kepada penerima manfaat,” tandas Hanung.
Sebelumnya, Puluhan santri di Desa Pilangwetan, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, dugaan kuat mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Akibat kejadian tersebut, lebih dari 50 santri harus menjalani perawatan di rumah sakit.




