Kepala Dinas Kesehatan Demak, Ali Maimun, mengungkapkan, para santri mulai mengalami gejala keracunan seperti mual, muntah, pusing, dan diare pada Ahad, 19 April 2026 pagi. Berdasarkan informasi awal yang telah Ali terima, para santri berasal dari tiga hingga lima pesantren di Desa Pilangwetan.
Terjadinya mulai dari pagi tadi. Kami dari Dinas Kesehatan sudah melakukan evakuasi terhadap korban-korban yang mengalami mual-mual dan muntah-muntah ke rumah sakit,” kata Ali kepada Republika, Ahad.
Ali menduga, para santri mengalami dugaan keracunan dari menu MBG yang penyajiannya pada Sabtu, 18 April 2026. “Jadi kalau pagi para santri ini sekolah di Mts. Nah pulangnya atau mondoknya di pesantren,” ujarnya.
Dia mengaku belum memperoleh data di mana saja para santri yang menjadi korban dugaan keracunan bersekolah. Namun Ali sudah mengetahui menu MBG yang para santri konsumsi, yakni nasi goreng, telur, acar, dan buah jeruk. MBG tersebut dipasok dari SPPG yang sama.
Menurut Ali, jumlah santri yang dugaan kuat mengalami keracunan belum pasti atau masih dalam pendataan. “Pokoknya ada 50 lebih yang dalam perawatan,” katanya.
Ali mengungkapkan, para santri menjalani perawatan di tiga rumah sakit dan satu puskesmas.
“Kami sudah buka pelayanan kesehatan di Desa Pilangwetan. Jadi kalau ada yang mengalami keluhan-keluhan, bisa datang ke situ. Di sana tadi pagi juga ada dokternya. Kalau yang (gejala) berat, langsung kami rujuk ke rumah sakit,” ucapnya.
BACA JUGA: DPRD Jateng Desak Evaluasi Ketat SPPG Usai Dugaan Keracunan MBG di SMKN 11 Semarang
Ali mengaku belum memperoleh informasi nama SPPG yang memasok MBG ke sekolah-sekolah para santri. Namun dia memastikan, Dinas Kesehatan Demak akan melakukan inspeksi ke SPPG tersebut pada Senin, 20 April 2026.
Mereka bakal memeriksa kepatuhan standar operasional prosedur SPPG terkait, termasuk mengambil sampel. (*)
Editor: Farah Nazila




