Jateng

Update Kasus MBG Demak: Nasi Goreng Tercampur Kuah Acar, Tak Ada Chef di SPPG Terkait

×

Update Kasus MBG Demak: Nasi Goreng Tercampur Kuah Acar, Tak Ada Chef di SPPG Terkait

Sebarkan artikel ini
Wisatawan Jateng | Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Jawa Tengah, Hanung Triyono
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Jawa Tengah, Hanung Triyono, saat ditemui di PO Hotel, Kota Semarang, Kamis, 29 Januari 2026. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Dugaan keracunan usai mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Pilangwetan, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, berdampak pada sekitar 180 penerima manfaat.

Mayoritas korban merupakan santri dan pelajar. Selain itu, terdapat pula tenaga pendidik hingga ibu menyusui dan balita yang turut terdampak.

Sekretaris Tim Percepatan MBG Provinsi Jawa Tengah, Hanung Triyono, menyebut dari total tersebut, sebanyak 81 orang dirujuk ke fasilitas kesehatan dan 106 lainnya menjalani rawat jalan.

“Total terdampak sekitar 180 orang. Sebanyak 81 dirujuk ke fasilitas kesehatan, dan 106 menjalani rawat jalan,” ujar Hanung via WhatsApp, Selasa, 21 April 2026.

BACA JUGA: Kemenko Pangan Target Ikan Masuk Dua Kali Seminggu di Menu MBG, Jateng jadi Pilot Project

Hanung menambahkan, hingga Senin, 20 April 2026 pagi, masih terdapat 70 orang yang menjalani rawat inap di sejumlah rumah sakit dan puskesmas. Adapun gejala yang korban alami meliputi diare, mual, muntah, pusing, hingga perut mulas.

“Sebagian besar kondisinya sudah membaik dan diproyeksikan segera kembali ke rumah,” imbuhnya.

Makanan Dimasak Dini Hari, Baru Dikonsumsi Siang hingga Sore

Hanung mengungkap, hasil investigasi awal menunjukkan produksi makanan MBG sejak dini hari, namun baru siswa konsumsi beberapa jam setelahnya.

“Proses produksi mulai sekitar pukul 01.00 sampai 04.00 WIB, dengan proses masak nasi goreng sekitar pukul 03.00 WIB,” jelasnya.

Makanan tersebut kemudian didistribusikan pada pagi hari, sekitar pukul 06.00 hingga 10.00 WIB. Namun dalam praktiknya, kata Hanung, konsumsi makanan tidak langsung di lokasi, melainkan bawa ke pondok pesantren.

“Makanan dikonsumsi sekitar pukul 13.30 hingga sore hari. Bahkan ada yang dipindahkan ke wadah lain sebelum dimakan,” ujarnya.

BACA JUGA: Tahun 2026 Belum Genap 2 Bulan, Jumlah Keracunan MBG di Jateng Capai Seribu Orang, Terbaru di Kudus

Ia juga menyebut konsumsi tidak hanya penerima manfaat yang melakukan, melainkan turut pihak lain konsumsi.

“Terdapat konsumsi bersama, termasuk oleh non-penerima manfaat,” katanya.

Dugaan Penyebab Keracunan karena Keterlambatan, Tercampurnya Makanan, hingga Kombinasi Menu

Berdasarkan analisis sementara, Hanung menyebut kejadian tersebut dugaan kuat terpicu faktor pasca-produksi. Selain itu, ada indikasi pencampuran makanan yang berpotensi memengaruhi kualitas.

“Dugaan kuat akibat keterlambatan konsumsi yang melebihi batas aman. Ada indikasi pencampuran nasi goreng dengan kuah acar, serta penyimpanan ulang di pondok,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti kombinasi menu yang ternilai berpotensi memicu gangguan pencernaan.

“Kombinasi susu dan jeruk juga berpotensi menimbulkan gangguan pencernaan,” tambahnya.

Dapur MBG Disetop, Ditemukan Sejumlah Catatan Fasilitas

Lebih lanjut, Hanung menyebut operasional dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lokasi kejadian telah dihentikan sementara sejak 19 April 2026.

“(Produksi berhenti) sementara sambil menunggu hasil uji laboratorium,” ujarnya.

Dalam investigasi, pihaknya juga menemukan sejumlah catatan pada fasilitas dapur, meskipun secara umum layout telah sesuai.

“Beberapa di antaranya belum ada grease trap, kondisi air agak keruh, lantai sudah mengelupas, dan belum terdapat chef,” jelasnya.

BACA JUGA: PT Yasa Artha Trimanunggal, Pemasok Motor MBG yang Jadi Sorotan

Selain itu, terdapat pula keterbatasan fasilitas pendukung seperti ruang penyimpanan dan sistem pengolahan limbah.

“Ruang loker tidak ada pintu, ruang alat dapur belum tersedia, grease trap untuk cuci bahan baku dan ompreng belum ada, lantai kotor dan epoksi mengelupas, kamar mess masih kurang, serta pintu jalur ke toilet belum tersedia,” ungkapnya.

Hanung menegaskan, keracunan tersebut menjadi evaluasi untuk perbaikan SPPG di Jawa Tengah ke depannya.

“Perlu penguatan SOP, terutama konsumsi langsung di lokasi, evaluasi menu, serta peningkatan pengawasan distribusi dan edukasi kepada penerima manfaat,” tandas Hanung.

Sebelumnya, Puluhan santri di Desa Pilangwetan, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, dugaan kuat mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Akibat kejadian tersebut, lebih dari 50 santri harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Gejala Keracunan Mulai Ahad Pagi

Kepala Dinas Kesehatan Demak, Ali Maimun, mengungkapkan, para santri mulai mengalami gejala keracunan seperti mual, muntah, pusing, dan diare pada Ahad, 19 April 2026 pagi. Berdasarkan informasi awal yang telah Ali terima, para santri berasal dari tiga hingga lima pesantren di Desa Pilangwetan.

Terjadinya mulai dari pagi tadi. Kami dari Dinas Kesehatan sudah melakukan evakuasi terhadap korban-korban yang mengalami mual-mual dan muntah-muntah ke rumah sakit,” kata Ali kepada Republika, Ahad.

Ali menduga, para santri mengalami dugaan keracunan dari menu MBG yang penyajiannya pada Sabtu, 18 April 2026. “Jadi kalau pagi para santri ini sekolah di Mts. Nah pulangnya atau mondoknya di pesantren,” ujarnya.

Dia mengaku belum memperoleh data di mana saja para santri yang menjadi korban dugaan keracunan bersekolah. Namun Ali sudah mengetahui menu MBG yang para santri konsumsi, yakni nasi goreng, telur, acar, dan buah jeruk. MBG tersebut dipasok dari SPPG yang sama.

Menurut Ali, jumlah santri yang dugaan kuat mengalami keracunan belum pasti atau masih dalam pendataan. “Pokoknya ada 50 lebih yang dalam perawatan,” katanya.

Ali mengungkapkan, para santri menjalani perawatan di tiga rumah sakit dan satu puskesmas.

“Kami sudah buka pelayanan kesehatan di Desa Pilangwetan. Jadi kalau ada yang mengalami keluhan-keluhan, bisa datang ke situ. Di sana tadi pagi juga ada dokternya. Kalau yang (gejala) berat, langsung kami rujuk ke rumah sakit,” ucapnya.

BACA JUGA: DPRD Jateng Desak Evaluasi Ketat SPPG Usai Dugaan Keracunan MBG di SMKN 11 Semarang

Ali mengaku belum memperoleh informasi nama SPPG yang memasok MBG ke sekolah-sekolah para santri. Namun dia memastikan, Dinas Kesehatan Demak akan melakukan inspeksi ke SPPG tersebut pada Senin, 20 April 2026.

Mereka bakal memeriksa kepatuhan standar operasional prosedur SPPG terkait, termasuk mengambil sampel. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp