SEMARANG, beritajateng.tv – Banjir dan bencana hidrometeorologi semakin meluas di Jawa Tengah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mencatat, sepanjang Januari 2026 terjadi 297 kejadian bencana yang tersebar di 38 kabupaten/kota.
Berdasarkan data BPBD Jawa Tengah yang diterima beritajateng.tv pada Senin, 26 Januari 2026 sore, hingga Selasa, 25 Januari 2026, sebanyak 11 daerah masih terdampak bencana.
Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Demak, Kudus, Pati, Jepara, Pemalang, Purbalingga, Brebes, Kabupaten Tegal, serta Kota Pekalongan. Selain itu, Kabupaten Pekalongan masih terdampak banjir dan tanah longsor, sementara Kota Tegal dilaporkan masih menghadapi cuaca ekstrem.
BPBD Jawa Tengah menyatakan masih melakukan penanganan darurat di sejumlah wilayah, mulai dari evakuasi warga terdampak, pembukaan akses jalan, hingga pembersihan material bencana.
Dalam beberapa hari terakhir, banjir bandang dan longsor juga terjadi di kawasan kaki Gunung Slamet, meliputi Kabupaten Pemalang, Tegal, Banyumas, dan Purbalingga, pada 23-24 Januari 2026.
Peristiwa tersebut ramai diperbincangkan di media sosial, lantaran aliran banjir membawa kayu gelondongan yang merusak infrastruktur dan rumah warga. Namun hingga kini, asal material kayu gelondongan tersebut belum dapat dipastikan.
Kepala Bidang Pengendalian Operasi dan Pengelolaan Data Informasi BPBD Jawa Tengah, Armin Nugroho, mengatakan pihaknya masih melakukan pendalaman terkait sumber material yang terbawa banjir bandang, khususnya di Kabupaten Pemalang dan Kabupaten Tegal.
BACA JUGA: Banjir Bandang di Kaki Gunung Slamet, Senator Abdul Kholik: Bupati Banyumas Tegas Cabut Izin Tambang
Armin menjelaskan, hingga saat ini BPBD Jawa Tengah masih menyiagakan penanganan darurat lantaran potensi hujan lebat dan bencana susulan masih cukup tinggi.
“Ini karena kita tidak tahu apakah akan ada banjir susulan atau tidak. Prediksi cuaca dari BMKG menyebutkan intensitas hujan masih sangat tinggi, kemungkinan sampai Februari,” kata Armin saat beritajateng.tv hubungi via WhatsApp Call, Senin, 26 Januari 2026.
Ia menegaskan, penanganan bencana di Jawa Tengah tidak hanya dilakukan oleh BPBD semata, melainkan melibatkan lintas instansi dan unsur pemerintahan.
“Penanganan sudah berlangsung maksimal. Tidak hanya BPBD saja, tapi juga pemerintah provinsi, kabupaten, TNI, Polri, Dinas PU, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan,, semuanya bersama-sama membantu penanganan bencana,” ujarnya.
Menanggapi beredarnya video di media sosial yang memperlihatkan kayu-kayu besar terbawa arus banjir bandang, Armin menegaskan pihaknya belum dapat memastikan asal material kayu tersebut.
“Saya belum bisa menyampaikan asal pohon-pohonnya dari mana. Belum ada kajian ke arah situ. Saya takut salah memberikan informasi,” ucapnya.
Menurut Armin, longsor dan banjir bandang dapat terjadi meskipun kawasan tersebut masih memiliki tutupan vegetasi.
“Kejadian longsor itu tidak hanya terjadi di daerah yang tidak ada pohonnya. Dengan adanya pohon pun, kalau tanahnya labil dan terpicu intensitas hujan yang sangat tinggi, longsor tetap bisa terjadi dan menimbulkan banjir bandang,” jelasnya.
Ia mengakui, berdasarkan laporan dan dokumentasi lapangan, memang terdapat material kayu, batu, dan lumpur yang terbawa aliran banjir. Namun, sumber pasti material tersebut belum tercantum dalam laporan resmi yang ia terima.
“Saya sendiri tidak di lapangan. Saya menerima laporan dari teman-teman di lapangan. Material seperti kayu, batu, lumpur itu terbawa aliran debit yang deras akibat hujan intensitas tinggi dan longsor dari wilayah atas,” katanya.
Armin menyebut, wilayah terdampak paling parah di Kabupaten Pemalang berada di Kecamatan Pulosari.
“Yang paling parah saat ini di Pemalang itu di Kecamatan Pulosari, terutama Desa Gunungsari, Desa Jurangmangu, dan Desa Penakir,” ujarnya.
Korban Meninggal Banjir Bandang Pemalang Hanya Satu Orang, Warga Asal Desa Penakir
Terkait korban jiwa, Armin memastikan satu orang warga meninggal dunia akibat banjir bandang di Desa Penakir, Kecamatan Pulosari.
“Korban meninggal satu orang. Satu orang warga di Penakir,” kata Armin.
Namun, ia juga menyampaikan adanya peristiwa longsor lain yang terjadi di wilayah berbeda di Kabupaten Pemalang, yakni di Kecamatan Watukumpul.
“Di Pemalang hari Minggu kemarin juga ada longsor di lahan Perhutani di Watukumpul. Ada dua orang tertimbun longsor saat berkebun dan sampai hari ini masih operasi pencarian,” jelasnya.
Armin menegaskan, peristiwa longsor di Watukumpul tersebut berbeda lokasi dengan banjir bandang di Kecamatan Pulosari.
“Itu bukan lokasi banjir bandang di Pulosari. Lokasinya berbeda,” pungkasnya.
Gelondongan kayu penuhi Desa Penakir Pemalang hingga Pantai Larangan Tegal
Sebelumnya, viral di media sosial video yang memperlihatkan bongkahan kayu yang terbawa banjir bandang di Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Video tersebut merupakan unggahan akun Instagram @kabarpemalang pada Sabtu, 24 Januari 2026.
“Info terkini kondisi di Desa Penakir setelah semalaman banjir bandang,” tulis akun tersebut dalam video yang memperlihatkan banyaknya bongkahan kayu yang menimpa akses jalan dan rumah warga.
BACA JUGA: Banjir Pantura Terus Berulang, Senator Casytha: Tanpa Giant Sea Wall Masalah Tak Selesai
Selain di Desa Penakir, bongkahan kayu juga memenuhi Desa Sima, Kecamatan Moga usai banjir bandang melanda.
“Pemandangan tak biasa terlihat di Desa Sima, Kecamatan Moga yang mana banyak kayu berserakan yang terbawa arus dari wilayah atas Desa Penakir, Kecamatan Pulosari semalam. Peristiwa tersebut juga mengakibatkan satu warga meninggal dunia akibat terbawa arus,” tulisnya.
Tak hanya Pemalang, gelondongan kayu juga warga dapati di Pantai Larangan, Kabupaten Tegal usai banjir bandang di Kawasan Guci Tegal pada Jumat, 24 Januari 2026 lalu. (*)
Editor: Farah Nazila





