SEMARANG, beritajateng.tv – Seorang ibu di Kebumen yang nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri bersama dua putranya pada awal Januari 2026 lalu mendapat sorotan dari Komisi VIII DPR RI.
Seorang ibu berinisial AA (44), warga Buayan, Kabupaten Kebumen, memutuskan mengakhiri hidup dengan cara gantung diri bersama dua putranya, AT (5) dan AAW (8). Namun, AAW berhasil selamat. Peristiwa tersebut diduga dipicu persoalan ekonomi.
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI asal Gerindra, Abdul Wachid, menyampaikan pihaknya telah melakukan pengecekan dan berkomunikasi dengan pemerintah daerah setempat.
“Saya sudah crosscheck dengan video itu, saya sampaikan kepada Bupati Kebumen dan itu memang sudah mereka tangani sejak awal,” ujar Wachid usai menghadiri kunjungan kerja Komisi VIII DPR RI di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, Kamis, 22 Januari 2026.
Menurut Wachid, faktor perceraian keluarga menjadi latar belakang yang mendorong tindakan nekat tersebut. Ia menyebut persoalan ekonomi turut memperberat kondisi keluarga.
BACA JUGA: Trauma Usai Keluarga Gantung Diri, Anak 8 Tahun di Kebumen Dalam Pengawasan UPTD PPA
“Memang itu ada akibat dari perceraian dari keluarga dan itu yang menjadikan mereka nekat. Kebumen juga termasuk daerah yang tergolong miskin,” katanya.
Wachid menegaskan, Komisi VIII mendorong keterlibatan pemerintah pusat dalam penanganan lanjutan, khususnya pada aspek perlindungan perempuan dan anak.
“Saya sudah bicara dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk turun ke daerah sana,” ujarnya.
Selain itu, ia juga mengaku telah berkomunikasi dengan Bupati Kebumen dan mantan Bupati Kebumen agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Saya sudah sampaikan kepada Bupati dan mantan Bupati Kebumen, jangan sampai terjadi lagi,” pungkas Wachid.
Kasus Ibu Gantung Diri Ajak Dua Putranya
Sebelumnya, AA mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Tragisnya, ia membawa serta anak kandungnya yang masih berusia lima tahun. Aksi nekat ini diduga kuat dilatarbelakangi depresi akibat himpitan ekonomi dan ditinggalkan suami yang menikah lagi.
Peristiwa menyedihkan ini terjadi di Desa Banyumudal, Kecamatan Buayan, pada Selasa, 6 Januari 2026, sekitar pukul 22.00 WIB. Kejadian baru diketahui setelah anak pertama korban yang berusia 8 tahun berlari keluar rumah meminta pertolongan tetangga.
Kapolsek Buayan, Iptu Walali Saebani, menjelaskan, latar belakang kejadian adalah depresi yang korban alami. Faktor utamanya yakni tekanan ekonomi dan ditinggal suami yang dilaporkan telah menikah lagi.
“Hasil olah TKP dan visum oleh tim Inafis Polres Kebumen dan dokter dari RSUD Kebumen cenderung ke ekonomi, mungkin karena sang suami meninggalkannya,” ujar Iptu Walali Saebani, Sabtu, 10 Januari 2026.
BACA JUGA: Ibu Ajak Anaknya Gantung Diri Hingga Tewas di Kebumen
Korban tidak menerima nafkah dari suaminya selama dua tahun terakhir. Suami korban bekerja di luar kota dan menurut keterangan tetangga, tidak pernah pulang dalam kurun waktu tersebut.
Lebih tragis lagi, anak pertama korban yang berusia 8 tahun sempat sang ibu ajak untuk ikut mengakhiri hidup. Namun, anak tersebut menolak dan berhasil menyelamatkan diri. Ia kemudian menjadi saksi kunci sekaligus pelapor yang memberi tahu tetangga.
“Anak yang selamat ini sempat ibunya ajak juga untuk ikut mengakhiri hidup, namun si anak menolak,” jelas Walali. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





