“Tahun ini ada sekitar 130 armada yang diremajakan di beberapa koridor. Selain itu, bus listrik mulai beroperasi untuk meningkatkan kualitas layanan,” ujar Dini.
Namun, ia menegaskan tantangan berikutnya bukan hanya soal tarif murah, melainkan kemudahan akses.
DPRD mendorong agar sistem feeder berkembang. Sehingga masyarakat bisa menjangkau transportasi umum dalam radius ideal.
“Prinsipnya, sekitar 500 meter dari rumah warga sudah bisa mengakses transportasi umum. Jadi bukan hanya murah, tapi juga mudah dan nyaman,” tegasnya.
Selain perluasan jaringan, DPRD juga menyoroti pentingnya reformasi manajemen transportasi sesuai Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Perhubungan.
Dalam regulasi tersebut, operator dan regulator harus di pisahkan agar pengelolaan lebih profesional dan akuntabel.
“Manajemen transportasi massal harus dibenahi secara menyeluruh. Operator dan regulator perlu di pisah agar tata kelolanya transparan dan layanan semakin baik,” tambah Dini.
Transportasi Massal Jadi Tumpuan Mobilitas Kota
Pengembangan feeder Trans Semarang menjadi bagian penting dalam mewujudkan sistem transportasi terintegrasi di Kota Semarang. Tanpa dukungan jaringan pengumpan yang kuat, akses masyarakat ke transportasi massal akan tetap timpang.
Pemerintah Kota kini menghadapi dua tantangan sekaligus: menjaga kualitas layanan yang sudah ada dan memperluas jangkauan hingga ke lingkungan permukiman. Keputusan menambah feeder tidak hanya soal teknis operasional, tetapi juga kesiapan fiskal daerah. (*)





