SEMARANG, beritajateng.tv – Warga Dusun Ngrawan, Desa Ngrawan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, punya tradisi spiritual yang masih berlangsung hingga sekarang. Adalah Rejeban, agenda budaya turun-temurun sebagai representasi kepatuhan warga setempat dalam melestarikan dan merawat warisan leluhur.
Di satu sisi, tradisi ini juga menjadi bagian dari ungkapan rasa syukur sekaligus keberkahan dan kesejahteraan bagi warga di lereng Gunung Telomoyo tersebut.
Uniknya, tradisi ini dilaksanakan di kawasan situs prasasti Ngrawan, sebuah benda cagar budaya peninggalan era Majapahit Akhir 1.400 atau 1.373 Saka yang ada di lingkungan dusun mereka.
Sesepuh warga Ngrawan, Subianto, menuturkan, tradisi Rejeban yang diwariskan leluhur ini dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab yang harinya jatuh pada Jumat Legi.
Salah satu prosesi yang unik dari tradisi ini yakni penyembelihan kambing betina muda tetapi yang telah mengandung janin sebagai penghormatan kepada leluhur serta untuk menjaga kebersamaan.
BACA JUGA: Pengemudi Taxi Diduga Microsleep Tabrak Grandmax di Ungaran Semarang, Tiga Orang Luka-luka
“Warga kami percaya, jika kambing betina itu sudah ada janin mudanya, maka akan bisa mendatangkan keberkahan dan kelancaran rezeki. Kalau tidak ada akan sulit,” ungkapnya.
Setelah penyembelihan kambing, jelas Subianto, berlangsung prosesi kirab gunungan berbagai hasil bumi hingga tumpeng. Rutenya dari perkampungan warga menuju lokasi situs prasasti Ngrawan.
Ratusan warga yang mengikuti kirab gunungan dengan iringan tetabuhan tradisional tersebut berjalan kaki menuju lokasi situs prasasti Ngrawan yang berjarak sekitar 1,5 kilometer.
Sesampainya di situs prasasti Ngrawan berlanjut doa bersama memohon kepada Tuhan agar segenap masyarakat beroleh keselamatan, kesehatan, dan kemudahan rezeki.
“Setelah itu menyantap berbagai makanan. Menutup rangkaian tradisi ini, warga baik dewasa maupun anak-anak berebut gunungan,” jelasnya.
Pelestarian Tradisi Rejeban
Mewakili Bupati Semarang, Camat Getasan, Muhammad Soni Aribowo, mengatakan, dalam konteks pembangunan budaya, Rejeban ini merupakan tradisi yang harus masyarakat rawat.
Maka ia mengajak segenap masyarakat di Dusun Ngrawan untuk menjaga dan melestarikan agar tradisi Rejeban dengan segala kekhasan dan keunikannya tersebut tidak terputus.
Pasalnya, pemerintah daerah juga memiliki program melestarikan nilai-nilai budaya lokal sebagai bagian dari kekayaan serta keragaman budaya bangsa.
Bahkan, ia ingin agar tradisi Rejeban tidak hanya berskala dusun. Namun, juga bisa berkembang hingga skala desa. “Sehingga bisa menjadi salah satu ikon budaya di Kecamatan Getasan,” tegasnya.
BACA JUGA: Wakil Rakyat Desak PT TMJ Segera Perbaiki Kerusakan Infrastruktur Terdampak Banjir
Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang, Didik Setiawan, menambahkan, pihaknya mengapresiasi dan sangat mendukung kegiatan berwawasan budaya seperti tradisi Rejeban ini.
Menurutnya, tradisi Rejeban merupakan tradisi warisan turun-temurun yang telah berlangsung sejak dahulu dan masih masyarakat Desa Ngrawan pertahankan di era moderen sekarang ini.
Terlebih, selama ini Desa Ngrawan juga menjadi salah satu dari 85 desa wisata di Kabupaten Semarang.
“Sehingga tradisi ini semakin memperkaya atraksi budaya sebagai daya tarik dalam mendatangkan wisatawan,” tambahnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





