Jateng

Was-was Warga Dusun Bandungan, Longsor di Desa Kalongan Kian Meluas

×

Was-was Warga Dusun Bandungan, Longsor di Desa Kalongan Kian Meluas

Sebarkan artikel ini
tanah longsor
Pergerakan tanah yang memicu longsor di Dusun Bandungan, Desa Kalongan, hingga kini masih terus berlangsung. (Bowo Pribadi/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv — Pergerakan tanah yang memicu longsor di Dusun Bandungan, Desa Kalongan, hingga kini masih terus berlangsung. Area terdampak semakin meluas dan kian mengancam permukiman warga.

Rasa cemas dan was-was kini menjadi bagian dari keseharian warga yang rumahnya berada tak jauh dari titik longsor.

Kasnan (62), salah seorang warga Dusun Bandungan, mengaku hampir setiap hari hidup dalam kekhawatiran. Ia memilih tetap berada di rumah karena takut jika sewaktu-waktu longsor terjadi saat ia pergi.

“Kalau di rumah, saya juga harus selalu siap kalau-kalau harus lari menyelamatkan diri. Apalagi kalau hujan deras lama, rasanya tidak tenang sama sekali,” ujarnya, Sabtu, 28 Februari 2026.

BACA JUGA: Longsor Ancam Rumah Warga, DPRD Kabupaten Semarang Soroti Lambannya Penanganan

Kasnan menuturkan, meski rumahnya bukan yang paling dekat dengan area longsor, jarak longsor dengan permukiman kini semakin memendek. Ia menyebut rumah tetangganya, Jumar, bahkan hanya berjarak kurang dari 20 meter dari bibir longsor.

“Pak Jumar itu lebih kasihan lagi, beliau sakit stroke dan sudah tidak bisa bicara. Kalau terjadi apa-apa, bagaimana mau minta tolong,” ucapnya dengan nada khawatir.

Terkait wacana relokasi, Kasnan mengaku belum mendapatkan informasi resmi. Namun jika opsi tersebut ditempuh pemerintah, ia berharap warga dilibatkan dalam musyawarah.

“Harus dibicarakan bersama. Warga itu bukan cuma punya rumah, tapi juga tanah dan aset lain. Nanti bagaimana nasibnya,” katanya.

Kekhawatiran serupa dirasakan Wahono (72), warga lain yang memiliki lahan pertanian kering seluas sekitar 500 meter persegi di sekitar lokasi. Lahannya terbagi dua oleh Jalan Arjuna yang kini terputus akibat longsor. Sebagian lahan di sisi utara jalan sudah ikut ambles, sementara sisanya hanya berjarak sekitar tiga meter dari bibir jurang.

“Takut pasti ada, tapi mau bagaimana lagi. Mau ditangisi juga tidak kembali, ini memang faktor alam,” tuturnya pasrah.

Ia mengungkapkan, sejumlah pejabat dan instansi terkait sudah beberapa kali meninjau lokasi longsor, termasuk saat Ganjar Pranowo masih menjabat Gubernur Jawa Tengah. Namun hingga kini, ia merasa belum ada penanganan nyata yang bisa menghentikan atau mengurangi dampak longsor.

“Datang, lihat, foto-foto. Setelah itu ya sudah. Kami hanya bisa pasrah,” ucap Wahono.

BACA JUGA: Rumah Warga Nyaris Menggantung Akibat Longsor, Pemkab Semarang Kucurkan Bantuan Dana

Sementara itu, Solikin (46), warga Dusun Bandungan lainnya, menyoroti kerusakan infrastruktur akibat longsor yang semakin mengkhawatirkan. Pergerakan tanah telah memutus akses utama jalan Ungaran–Mranggen menuju Kabupaten Demak, sekaligus memperbesar ancaman terhadap permukiman warga.

“Panjang area longsor sekarang sudah sekitar 200 meter, dengan kedalaman jurang bisa mencapai 100 meter. Dua pekan terakhir hujan deras terus, longsor makin meluas dan makin dekat ke rumah warga,” tegasnya.

Dengan kondisi pergerakan tanah yang masih aktif, warga Dusun Bandungan kini hanya bisa berharap adanya langkah penanganan konkret dari pemerintah, sebelum longsor benar-benar merenggut rumah dan mata pencaharian mereka. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp