SEMARANG, beritajateng.tv – Musim hujan yang menyebabkan banjir di sejumlah wilayah Kota Semarang memicu kekhawatiran munculnya penyakit leptospirosis.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah mengingatkan warga untuk mewaspadai infeksi yang ditularkan melalui air yang tercemar urin tikus tersebut, utamanya bagi warga yang memiliki luka terbuka saat beraktivitas di genangan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Irma Makiah, menyebut leptospirosis menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai di tengah curah hujan tinggi dan banjir yang terjadi saat ini.
“Yang pertama ISPA, lalu pneumonia, batuk, pilek, dan infeksi saluran pernapasan lain. Kemudian gatal-gatal ya, banjir kan banyak yang gatal-gatal, leptospirosis juga. Ini menjadi perhatian kita juga di Jawa Tengah,” ujar Irma saat beritajateng.tv di kantornya, belum lama ini.
BACA JUGA: Musim Penghujan, Mohammad Saleh Imbau Masyarakat Terapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat
Irma menerangkan, tak sedikit warga yang terlambat datang ke fasilitas kesehatan karena mengira gejala leptospirosis hanya flu biasa. Padahal, kata dia, infeksi tersebut bisa berkembang serius dan berakibat fatal bila tidak segera ditangani.
“Leptospirosis itu orang sering terlambat datang karena dipikirnya flu biasa. Gejalanya demam tinggi mendadak, nyeri otot terutama di betis dan punggung, mata merah pada konjungtivanya. Kalau sampai berat itu bisa jadi penyakit Weil disease atau penyakit kuning yang menyerang ginjal, menyerang hati,” sambungnya.
Ia menerangkan, penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira yang banyak ditemukan pada tikus. Bakteri tersebut menyebar melalui urin tikus dan mencemari air banjir, lumpur, maupun genangan yang kemudian bersentuhan dengan luka di kulit atau masuk melalui mata, hidung, dan mulut.
“Banyak ada di kencing tikus dan dia mencemari di banjir, kalau kena luka orang ya bisa masuk lewat situ. Maka dari itu, di musim penghujan ini kita waspada, pastikan rumah kita bebas tikus,” tegas Irma.
Dinas Kesehatan Jawa Tengah meminta masyarakat yang beraktivitas di area banjir, utamanya terutama relawan, petani, hingga pekerja lapangan,untuk melindungi diri dari paparan air tercemar.
“Kalau pekerjaannya berisiko seperti relawan banjir, jangan sampai lukanya terkontaminasi air. Pakai sepatu boot supaya kalau ada luka dia tidak kena air yang kemungkinan sudah terkontaminasi dengan urin tikus,” katanya.
Irma menambahkan, kelompok paling rentan terinfeksi biasanya mereka yang sering kontak langsung dengan air atau tanah lembap.
“Biasanya yang banyak kena itu petani, yang di perkebunan atau orang-orang yang kerjanya berisiko di tempat-tempat seperti itu,” sambungnya.
Ada 657 kasus dan 108 kematian akibat Leptospirosis sepanjang 2025
Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Jawa Tengah, tercatat 657 kasus leptospirosis dengan 108 kematian sepanjang tahun 2025. Jumlah tersebut meningkat dari tahun 2024 yang mencatat 545 kasus dengan angka kematian sekitar 12 persen.
“Ada 657 tapi ini yang terlaporkan, yang meninggal 108, memang cukup tinggi. Tapi laporan ini belum tentu jelek loh, bisa jadi tahun kemarin cukup tinggi tapi belum semua kasus melaporkan,” tuturnya.
BACA JUGA: Pakar Ingatkan Ancaman Banjir di Puncak Musim Hujan Bulan Januari-Februari: Pantura Paling Rawan
Irma menjelaskan, kenaikan kasus tak lepas dari perbaikan sistem pelaporan berbasis rumah sakit dan penguatan surveilans masyarakat.
“Tahun ini kasus tinggi karena kita minta laporan real time dari rumah sakit. Jadi surveilans kita jalan. Penyakit lepto itu dari dulu sudah ada, cuma sekarang banyak surveilans kita yang jalan,” jelasnya.
Irma menambahkan, curah hujan tinggi dan banjir yang terjadi hampir sepanjang tahun ikut berpengaruh pada meningkatnya sebaran penyakit. Adapun kelompok usia dewasa menjadi yang paling banyak terinfeksi karena lebih sering terlibat langsung dalam aktivitas banjir.
“Banjir dari awal tahun di mana-mana, hampir semua kabupaten-kota. Ini karena perubahan iklim juga berpengaruh ke sebaran penyakit. Tahun lalu DBD yang naik, tahun ini lepto yang naik. Rentang usianya paling banyak usia dewasa. Anak-anak kan jarang nyegur banjir,” pungkasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





