Tak berhenti pada aspek peternakan, Nio Farm juga menekankan pentingnya nilai tambah produk. Pengunjung dikenalkan pada cara pengemasan yang menarik serta strategi pemasaran agar susu kambing mampu bersaing di pasar.
“Bagaimana cara memasarkan dan mengenalkan produk, hingga membuat produk itu masyarakat sukai dan butuhkan. Karena kalau sudah menjadi kebutuhan, pasti akan di beli. Suka belum tentu beli, tapi kalau butuh pasti beli,” katanya.
Keunikan lain terletak pada jenis kambing yang dikembangkan, yakni Saanen dan Sapera, ras unggulan yang berasal dari Swiss dan India. Keduanya dikenal sebagai penghasil susu berkualitas, sehingga menjadi pilihan utama dalam pengembangan usaha susu kambing.
Di masyarakat, susu kambing juga memiliki citra sebagai minuman bernutrisi dengan berbagai manfaat kesehatan. Mulai dari membantu pengobatan penyakit paru-paru seperti TBC dan asma, hingga berperan dalam menjaga tekanan darah dan kesehatan pencernaan.
Bagi Hamzah, konsep yang Nio Farm bangun bukan sekadar wisata, tetapi juga upaya menciptakan ekosistem belajar yang dapat daerah lain tiru.
Pengalaman tersebut terasa langsung oleh Syuulce, pengunjung asal Jayapura. Ia melihat peluang besar dari usaha susu kambing, terutama di daerahnya yang masih minim pelaku usaha serupa.
BACA JUGA: Tanggapi Polemik Peternakan Babi di Jepara, Abdul Kholik: Hormati Fatwa MUI dan Aspirasi Masyarakat
Ia mengaku tertarik mengadopsi sistem yang Nio Farm terapkan, mulai dari pengelolaan kandang, peningkatan kualitas susu, hingga strategi pemasaran produk olahan.
“Bagus, saya dapat pengalaman bagaimana cara memerah susu kambing. Saya jadi tertarik membuka usaha ini karena di tempat kami belum ada kambing perah,” pungkasnya.
Dengan pendekatan yang menggabungkan edukasi, pengalaman langsung, dan peluang bisnis, Nio Farm menghadirkan wajah baru peternakan kambing, lebih dekat, lebih menarik, dan penuh potensi. (*)
Editor: Farah Nazila





