SEMARANG, beritajateng.tv – Konflik keras PBNU masuk fase genting setelah pernyataan Rais Aam K.H. Miftachul Ahyar pada 29 November 2025. Ia menegaskan bahwa Yahya Cholil Staquf tak memegang amanah ketua umum PBNU per 26 November 2025.
Penegasan muncul saat Yahya meluncurkan manuver berupa rotasi pengurus harian Tanfidziyah, termasuk pencopotan Saifullah Yusuf serta Gudfan Arif. Namun, Rais Aam menolak keras langkah itu dan menilai seluruh tindakan Yahya tak memiliki legitimasi.
Pengamat politik Hersubeno Arief menyorot langkah tegas tersebut melalui kanal YouTube Hersubeno Point pada Minggu, 30 November 2025. “Langkah ini langsung mengubah peta kekuatan,” ujar Hersubeno.
Ia menyebut dukungan dari 36 PWNU yang bertemu Rais Aam menjadi faktor penentu. “Semua wilayah yang awalnya berada bersama Yahya kini berbalik arah,” lanjutnya.
BACA JUGA: Sempat Menghindar, Sekjen PBNU Gus Ipul Respons Pemakzulan Gus Yahya: Serahkan ke Para Ulama
Yahya makin terjepit setelah para kiai sepuh Lirboyo memilih jalur netral. Mereka menegaskan komitmen pada semangat islah, bukan dukungan pada salah satu kubu.
Situasi itu mematahkan harapan Yahya yang sebelumnya ingin memakai forum Lirboyo sebagai penyangga moral. Hersubeno menilai momen tersebut sangat menentukan.
“Begitu Lirboyo mengambil posisi netral, penyangga moral Yahya runtuh,” ucapnya.












