Hersubeno juga mengulas momen unik saat rombongan Yahya dan Rais Aam berada dalam penerbangan sama menuju Surabaya.
Yahya meminta waktu sowan setelah mendarat, namun Kiai Miftach hanya menjawab akan mengecek jadwal. “Jawaban itu maknanya penolakan halus,” kata Hersubeno.
Yahya Staquf tak lagi pegang amanah ketum, PBNU segera muktamar?
Setelah pernyataan resmi keluar, Syuriah menyiapkan rapat pleno maupun muktamar guna menata ulang struktur. Tim pencari fakta terbentuk dengan ketua K.H. Anwar Iskandar serta K.H. Afifuddin Muhajir.
Selan itu, Syuriah juga menunda proses administrasi pada tingkat PBNU sampai seluruh klarifikasi tuntas.
Tekanan pada Yahya kian kuat karena tiga faktor: alih dukungan PWNU, sikap netral Lirboyo, serta penegasan bahwa langkah Yahya tak memiliki kekuatan hukum.
BACA JUGA: Ketum PBNU Tolak Ultimatum Mundur, Hersubeno Arief: Tak Sesuai Adab Santri kepada Kiai Sepuh
Situasi tersebut membuka dua opsi: penunjukan pejabat ketua umum sementara atau percepatan muktamar luar biasa.
Nama Saifullah Yusuf sempat mencuat sebagai calon penjabat. Namun, ia menolak. “Saya merasa belum cocok untuk posisi itu,” ujar Gus Ipul. Karena itu, figur pengganti masih menjadi teka-teki.
Hersubeno memandang arah konflik PBNU akan berdampak besar pada peta politik tanah air. “NU memegang peran strategis. Arah kepemimpinan baru akan menentukan posisi NU serta relasinya dengan PKB,” tuturnya. (*)












