Ia mengingatkan para siswa untuk tidak mudah percaya janji manis yang di bungkus dalih agama.
Sementara itu, Sih Wahyu Nurhastanti, Kepala Bidang PPUG Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang, menekankan pentingnya peran keluarga dalam menjaga anak-anak dari paparan buruk, termasuk paham radikal.
“Komunikasi di rumah itu penting banget. Kalau anak enggak punya tempat curhat yang nyaman, mereka bisa nyari pelarian di luar. Itu berbahaya,” kata Sih.
Ia menyebut media sosial sebagai salah satu tempat paling rawan bagi remaja terpapar paham ekstrem.
“Anak-anak jadi gampang curhat di medsos, yang ini jadi berbahaya karena mudah terpengaruh dan terpapar hal negatif, termasuk mudah radikalisme,” tambahnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, masyarakat Kota Semarang bisa memanfaatkan layanan Puspaga, yang menyediakan konsultasi gratis dengan lima psikolog profesional.
“Puspaga ini bisa jadi tempat aman buat anak-anak dan orang tua untuk ngobrol dan cari solusi,” imbuhnya. (*)
Editor: Elly Amaliyah





