Pendidikan

Yayasan Anantaka dan Puspaga Edukasi Anti Radikalisme Lewat Nobar Film Road to Resilience

×

Yayasan Anantaka dan Puspaga Edukasi Anti Radikalisme Lewat Nobar Film Road to Resilience

Sebarkan artikel ini
Yayasan Anantaka dan Puspaga Edukasi Anti Radikalisme Lewat Nobar Film Road to Resilience
Foto bersama anak-anak usai diskusi anti radikalisme dan nobar film Road to Resilience di SMAN 12 Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Yayasan Anantaka, menggandeng Kreasi Prasasti Perdamaian dan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Kota Semarang membekali generasi muda tentang pemahaman anti radikalisme.

Pemahaman anti radikalisme ini dengan cara mengajak anak-anaknya nonton bareng (nobar) film dokumenter “Road to Resilience” di SMAN 12 Semarang.

Selain menonton film, para siswa berdiskusi langsung dengan narasumber. Salah satunya dengan mantan anggota Jamaah Islamiyah Sugeng Riyadi, perwakilan Kemenag Kota Semarang, dan tim dari Densus 88.

Film “Road to Resilience” mengangkat kisah nyata Febri Ramdani dan ibunya, eks simpatisan ISIS yang pernah tinggal di Suriah.

BACA JUGA: Fokus Cegah Kekerasan Anak, Yayasan Anantaka Semarang Minta Sekolah Ramah Anak Jangan Hanya Branding

Mereka awalnya tergoda janji kehidupan islami yang lebih baik, namun akhirnya sadar dan pulang ke Indonesia untuk membangun hidup baru.

Proses pengambilan gambar film ini memakan waktu delapan tahun oleh Kreasi Prasasti Perdamaian.

“Isu radikalisme ini masih jarang disentuh dalam kegiatan pencegahan kekerasan di sekolah. Padahal dalam Permendikbud No. 46 Tahun 2023, radikalisme termasuk bentuk kekerasan yang harus ada pencegahan di satuan pendidikan,” ujar Ika Camelia, Direktur Yayasan Anantaka.

Ika juga menyayangkan bahwa sebagian besar sekolah baru fokus pada pencegahan kekerasan fisik atau perundungan. Padahal, penyusupan ideologi ekstrem juga perlu diwaspadai.

“Anak-anak perlu kita kenalkan pada isu ini supaya mereka bisa menjadi Pelopor dan Pelapor. Pelopor artinya mencegah ia dan teman-temannya dari radikalisme. Pelapor, artinya mereka berani lapor kalau menemukan tanda-tanda yang mencurigakan,” katanya lagi.

Salah satu momen paling menggugah dalam diskusi adalah ketika Sugeng Riyadi berbagi pengalaman masa lalunya terlibat dalam jaringan Jamaah Islamiyah.

“Saya mulai terpapar radikalisme sejak masa Aliyah di Solo, lewat kelompok Darul Islam. Sempat ditawari apakah akan melanjutkan sekolah ke Timur Tengah atau ikut akademi militer di Afghanistan. Kemudian saya tolak dua-duanya karena ingin melanjutkan kuliah di Jawa Tengah, kalau enggak Semarang, Solo, atau Yogyakarta,” tuturnya.