SEMARANG, beritajateng.tv – Hari Kanker Anak Sedunia atau International Childhood Cancer Day jatuh pada tanggal 15 Februari.
Setiap tahunnya, jumlah anak penderita kanker di Indonesia terbilang semakin banyak. Bahkan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menghitung ada sekitar 200 ribu kasus kanker pada anak di Indonesia.
Di Kota Semarang, ada satu tempat aman bagi anak-anak penderita kanker. Yaitu Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI).
Sejak berdiri pada 2016, YKAKI Cabang Semarang telah membantu sedikitnya 330 pasien kanker anak. Yayasan itu membantu seluruh biaya pengobatan pasien kanker pada anak.
“Mulai dari pengobatan, akomodasi, transportasi, kami cover. Karena yang di YKAKI tidak semuanya warga asli Semarang,” kata Ketua YKAKI Cabang Semarang, Vita Mahaswari kepada beritajateng.tv, Sabtu, 15 Februari 2025.
BACA JUGA: Waduh! Kasus Kanker Anak di Semarang Terus Meningkat, Apa Penyebabnya?
Vita menjelaskan, pengobatan kanker pada anak memerlukan waktu yang cukup lama. Sekitar 2 hingga 3 tahun lamanya.
Oleh karenanya, YKAKI Semarang hadir untuk menjadi tempat aman bagi keluarga-pasien yang melakukan pengobatan di Kota Semarang.
YKAKI bahkan memiliki rumah singgah yang bernama Rumah Kita yang lokasinya dekat dengan RSUP dr Kariadi, tepatnya di Jalan Kedung Jati Nomor 4- 6, Randusari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.
“Kami punya rumah singgah yang namanya Rumah Kita. Di sana, anak-anak pasien kanker dan pendampingnya bisa singgah secara nyaman, sehingga tenang selama pengobatan,” sambungnya.
Telat terdeteksi, persentase kesembuhan pasien kanker anak mengecil
Di tahun kedelapannya, Vita mengakui jika pihaknya masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Salah satunya, sebagian besar pasien kanker tidak kiat melawan ganasnya kanker hingga akhirnya meninggal dunia.
“Total yang kami bantu sampai tahun ini lebih dari 330 pasien. Tapi sayangnya hampir 50 persen anak-anak dengan kanker belum bisa tertolong,” beber Vita.
Menurut Vita, sebagian besar kasus kanker pada anak baru terdeteksi ketika sudah mencapai stadium lanjut. Akibatnya, persentase kesembuhan pasien juga semakin mengecil.





